Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Internasional

Washington Kaji Opsi Serangan Militer Besar untuk Rebut Uranium Iran

2026-07-26 12:31 WIB · aindari · 👁 595 dibaca

Ribuan personel militer AS dilaporkan disiapkan untuk kemungkinan operasi penyerbuan fasilitas nuklir Iran di tengah kebuntuan negosiasi.

Pemerintah Amerika Serikat dilaporkan tengah mempertimbangkan sebuah operasi militer berskala besar guna mengambil alih persediaan uranium diperkaya milik Iran. Rencana yang melibatkan ribuan tentara ini mencuat setelah jalur diplomasi dinilai menemui jalan buntu, sebagaimana dilaporkan The New York Post pada Sabtu (25/7).

Seorang sumber dari kalangan militer AS menyatakan kepada media konservatif tersebut bahwa opsi militer kini dianggap sebagai jalan paling realistis untuk menyingkirkan material nuklir yang dikuasai Iran, mengingat proses perundingan tidak menunjukkan kemajuan berarti.

Skenario operasi yang tengah dikaji mencakup beberapa tahapan kompleks. Pasukan darat dalam jumlah besar akan menyerbu fasilitas nuklir Iran, bertugas menjinakkan jebakan, mengerahkan tim teknis, serta membangun garis pertahanan di sekeliling lokasi target. Setelah area diamankan, sebuah unit pasukan khusus berukuran kecil akan masuk untuk mengambil uranium secara langsung. Fase pengambilan ini disebut sebagai bagian paling berisiko dari keseluruhan rencana, karena personel AS harus membersihkan reruntuhan pintu masuk fasilitas yang dihancurkan sambil mempertahankan posisi dari serangan balik pasukan Iran. Penguasaan penuh atas koridor udara juga menjadi prasyarat agar pesawat militer dapat mendarat dengan aman di lokasi operasi.

Dari pihak Iran, angkatan bersenjata negara itu tidak tinggal diam. Pada Kamis (23/7), sumber militer Iran mengungkapkan bahwa mereka telah menggelar latihan menghadapi berbagai skenario serangan AS, termasuk kemungkinan invasi darat.

Ketegangan ini merupakan kelanjutan dari eskalasi yang kembali memanas setelah sempat mereda. Pada 18 Juni lalu, kedua negara menandatangani memorandum perdamaian untuk mengakhiri konflik yang berlangsung sejak 28 Februari. Namun situasi berubah drastis ketika AS melancarkan serangan terhadap Iran mulai 8 Juli. Komando Pusat AS atau CENTCOM menyatakan serangan itu merupakan respons terhadap tindakan Iran terhadap kapal-kapal dagang di Selat Hormuz.

Iran membalas dengan menyerang sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah. Presiden Trump kemudian menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata antara kedua negara sudah tidak berlaku lagi.

Dengan negosiasi yang mandek dan eskalasi militer yang terus meningkat, rencana operasi perebutan uranium ini menambah lapisan ketegangan baru dalam konfrontasi AS-Iran. Jika benar dilaksanakan, operasi tersebut berpotensi menjadi salah satu aksi militer AS paling berisiko dalam beberapa dekade terakhir, mengingat kompleksitas medan dan kesiapan pertahanan Iran.

Tag: AS-Iran, uranium diperkaya, operasi militer, fasilitas nuklir, Timur Tengah