Sorgum Dinilai Jadi Bahan Baku Bioetanol Paling Ekonomis Dibanding Tebu dan Jagung
2026-07-26 17:09 WIB · aindari · 👁 772 dibaca

Pakar energi Universitas Indonesia menyebut bioetanol berbasis sorgum berpotensi lebih murah karena tidak berkompetisi dengan kebutuhan pangan dan dapat tumbuh di lahan kritis.
Pengembangan bioetanol dari sorgum mendapat sorotan positif dari kalangan akademisi. Ali Ahmudi Achyak, pakar energi dari Universitas Indonesia, menyatakan bahwa dari segi harga produksi, bioetanol berbahan sorgum memiliki keunggulan dibandingkan bioetanol yang diproduksi dari tebu, jagung, maupun singkong.
Menurut Ali, keunggulan biaya tersebut berakar pada dua faktor utama. Pertama, pemanfaatan sorgum untuk bioetanol tidak berbenturan dengan kebutuhan sektor pangan, sehingga tidak memicu persaingan harga bahan baku. Kedua, tanaman sorgum mampu tumbuh di lahan-lahan kritis yang tidak cocok untuk tanaman pangan lain, sehingga biaya pengembangan bisa ditekan karena tidak perlu menggunakan lahan produktif. Ia juga menyebut bahwa harga bibit sorgum lebih terjangkau ketimbang bibit jagung.
Meski demikian, Ali mengakui bahwa bioetanol dari sorgum tetap belum bisa menyaingi harga bahan bakar minyak berbasis fosil. Untuk memperkecil kesenjangan harga tersebut, ia mengusulkan agar pemerintah memberikan berbagai bentuk insentif. Bentuknya bisa berupa subsidi bibit, subsidi pupuk, serta dukungan riset terkait pemanfaatan sorgum sebagai bahan baku energi terbarukan.
Ali juga menekankan pentingnya membangun ekosistem industri sorgum secara menyeluruh. Ekosistem ini mencakup pengelolaan lahan, penyediaan bibit dan pupuk, penataan jalur distribusi dan tata niaga, hingga pembentukan komunitas petani yang siap membudidayakan sorgum secara komersial.
Di sisi kebijakan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa pemerintah menargetkan penerapan campuran etanol 10 persen dalam bensin atau yang dikenal sebagai E10 mulai tahun 2027. Langkah ini menjadi tahap awal sebelum beralih ke formula E20. Kajian mengenai kebijakan mandatori etanol telah dilakukan sejak 2025 dan kini hampir rampung, menjadi landasan penyusunan peta jalan menuju E20 yang direncanakan berlangsung bertahap hingga periode 2028-2029.
Kebijakan pencampuran etanol ke dalam bensin ini memiliki tujuan strategis, yakni mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak, khususnya bensin. Dengan potensi sorgum sebagai bahan baku yang lebih ekonomis dan ramah terhadap ketahanan pangan, pengembangan bioetanol berbasis tanaman ini bisa menjadi salah satu pilar penting dalam transisi energi nasional.
Tag: bioetanol, sorgum, energi terbarukan, kebijakan E10, pertanian lahan kritis