Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Internasional

Blokade Laut AS terhadap Iran Berlanjut, Tanker Berbendera Komoro Diinspeksi di Laut Arab

2026-07-26 17:15 WIB · aindari · 👁 906 dibaca

Militer Amerika Serikat melakukan inspeksi terhadap sebuah tanker di Laut Arab sekaligus mengalihkan belasan kapal komersial sebagai bagian dari penegakan blokade maritim terhadap Iran.

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di perairan strategis Timur Tengah kembali meningkat setelah militer AS melakukan inspeksi terhadap kapal tanker M/T Charminar yang mengibarkan bendera Komoro di Laut Arab. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa proses verifikasi telah rampung pada Sabtu (25/7) dan kapal tersebut dipersilakan melanjutkan pelayarannya.

Selain memeriksa tanker itu, pasukan bersenjata AS juga mengalihkan 12 kapal komersial yang dinilai berupaya menembus blokade laut terhadap Iran. Langkah-langkah ini merupakan bagian dari operasi penegakan blokade maritim yang dijalankan AS di kawasan Selat Hormuz dan sekitarnya, jalur pelayaran vital bagi perdagangan minyak global.

Dua hari sebelum inspeksi tersebut, Presiden Donald Trump menyatakan bahwa aset-aset Iran yang dibekukan di bawah kendali AS akan dimanfaatkan untuk menutup kerugian akibat kerusakan pada kapal maupun muatan yang terjadi selama blokade militer di Selat Hormuz. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Washington tidak berniat melunakkan tekanan terhadap Teheran dalam waktu dekat.

Padahal, kedua negara sempat menandatangani nota kesepahaman pada 18 Juni untuk mengakhiri konflik yang berlangsung sejak 28 Februari. Namun, situasi berubah drastis ketika militer AS kembali melancarkan serangkaian serangan terhadap Iran mulai 8 Juli. CENTCOM menyebut aksi militer tersebut sebagai respons atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz.

Iran menanggapi serangan AS dengan menyerang sejumlah pangkalan militer Amerika di kawasan Timur Tengah. Teheran juga menuding Washington telah melanggar perjanjian gencatan senjata yang sebelumnya disepakati. Presiden Trump sendiri secara terbuka menyatakan bahwa gencatan senjata tersebut sudah tidak berlaku lagi, sehingga menutup ruang bagi upaya diplomatik yang sempat terbangun.

Eskalasi ini menambah kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan, mengingat Selat Hormuz merupakan chokepoint utama bagi distribusi energi dunia. Belasan kapal yang dialihkan dan inspeksi terhadap tanker menunjukkan bahwa blokade AS berjalan aktif dan berdampak langsung pada arus pelayaran komersial di wilayah tersebut. Di sisi lain, upaya deeskalasi masih diupayakan oleh pihak-pihak regional, termasuk pembicaraan yang melibatkan Mesir, Iran, dan Oman untuk meredakan ketegangan di kawasan.

Tag: blokade maritim AS, Iran, Selat Hormuz, CENTCOM, konflik Timur Tengah