Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Pertanian

Pemulihan 57.000 Hektare Sawah Aceh Capai Separuh Jalan, Anggaran Naik ke Rp515 Miliar

2026-07-27 17:04 WIB · aindari · 👁 920 dibaca

Lebih dari 40.000 hektare sawah terdampak bencana hidrometeorologi di Aceh sudah masuk tahap rehabilitasi, sementara sekitar 16.600 hektare masih menunggu penanganan.

Pemulihan lahan pertanian pascabencana hidrometeorologi di Aceh terus bergerak meski belum tuntas. Dari total 57.485 hektare sawah yang rusak akibat bencana, rehabilitasi dan optimasi lahan kini sudah menjangkau sekitar 40.852 hektare — termasuk yang masih dalam proses pengerjaan. Artinya, sekitar 16.633 hektare, terutama kategori rusak berat dan sawah yang hilang, belum tertangani.

Data Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh merinci kerusakan dalam empat kategori: rusak ringan 27.437 hektare, rusak sedang 13.651 hektare, rusak berat 16.276 hektare, dan sawah yang hilang seluas 120 hektare. Juru Bicara Pemerintah Aceh, Nurlis Effendi, menyebut progres yang ada sudah membawa hasil positif, salah satunya ditandai dengan dimulainya gerakan tanam padi di lahan yang telah dipulihkan di Desa Bukit, Kabupaten Aceh Tamiang, serta Kutablang di Kabupaten Bireuen dan Aceh Utara.

Kinerja Distanbun Aceh juga berdampak pada bertambahnya dukungan anggaran dari pusat. Bantuan Kementerian Pertanian yang semula Rp380 miliar pada tahap pertama kini meningkat menjadi Rp515 miliar di tahap kedua. Rehabilitasi dilaksanakan bersama pemerintah provinsi serta kabupaten dan kota yang terdampak. Untuk sawah rusak ringan, dialokasikan Rp155,6 miliar mencakup 16 kabupaten/kota seluas 27.071 hektare. Sementara lahan rusak sedang mendapat anggaran Rp186 miliar untuk 11 kabupaten seluas 13.781 hektare, dengan progres konstruksi oleh kelompok tani bersama TNI sudah mencapai sekitar 4.393 hektare atau 32 persen dari target.

Di sektor irigasi, berbagai infrastruktur pendukung turut dibangun. Dari 641 unit irigasi perpompaan yang direncanakan di 16 kabupaten/kota dengan anggaran Rp98 miliar, sebanyak 456 unit sudah terbangun dengan realisasi keuangan 53,2 persen. Irigasi perpipaan di 13 kabupaten/kota mencapai progres sekitar 50 persen, sementara jaringan irigasi tersier sudah terealisasi 78 persen dengan 235 unit terbangun dari 300 unit yang ditargetkan. Secara keseluruhan, realisasi keuangan seluruh kegiatan mencapai 48,48 persen hingga 21 Juli 2026.

Dari sisi pemerintah pusat, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan penanganan terus berjalan tanpa henti. Ia mengungkapkan bahwa Kementerian Pertanian telah mengalihkan anggaran sebesar Rp1,7 triliun lebih dahulu sebelum anggaran pengganti tersedia, agar pemulihan tidak tertunda. Langkah itu mendapat apresiasi dari Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian sebagai wujud komitmen pemerintah terhadap sektor pertanian di daerah terdampak. Amran menekankan bahwa proses pemulihan memang tidak bisa diselesaikan sekaligus karena setiap tahapan memerlukan penyesuaian dengan kondisi lahan dan wilayah masing-masing, dan tim kementerian terus bekerja langsung di lapangan.

Tag: sawah Aceh, rehabilitasi lahan, bencana hidrometeorologi, Kementerian Pertanian, ketahanan pangan