Kim Yo Jong Serang ASEAN: Jangan Jadi Alat Amerika soal Denuklirisasi
2026-07-27 17:10 WIB · aindari · 👁 1,1rb dibaca

Adik pemimpin Korea Utara Kim Jong Un melontarkan kritik keras kepada ASEAN setelah negara-negara Asia Tenggara menyerukan denuklirisasi Pyongyang.
Kim Yo Jong, adik perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un sekaligus pejabat senior rezim Pyongyang, melayangkan kecaman tajam kepada ASEAN menyusul seruan blok Asia Tenggara agar Korea Utara melepaskan program senjata nuklirnya. Pernyataan itu menjadi salah satu respons paling keras Pyongyang terhadap posisi diplomatik ASEAN dalam beberapa waktu terakhir.
Dalam pernyataannya, Kim Yo Jong menyebut sikap ASEAN sebagai tindakan bodoh dan tidak masuk akal. Ia menilai negara-negara anggota ASEAN telah bertindak sebagai perpanjangan tangan kepentingan Amerika Serikat, bukan sebagai aktor regional yang independen. Kim Yo Jong secara eksplisit memperingatkan agar Asia Tenggara tidak menjadi "corong" Washington dalam menekan Pyongyang.
Seruan denuklirisasi yang dimaksud merupakan bagian dari pernyataan atau komunikasi resmi ASEAN yang mendorong Korea Utara untuk meninggalkan ambisi nuklirnya. Bagi Pyongyang, tuntutan semacam itu bukan hal baru — namun reaksi keras dari figur sekaliber Kim Yo Jong menunjukkan betapa sensitifnya isu ini bagi kepemimpinan Korea Utara, yang selama ini memandang senjata nuklir sebagai jaminan kelangsungan rezim.
Korea Utara memang secara konsisten menolak setiap tekanan internasional terkait denuklirisasi, termasuk dari forum-forum multilateral. Pyongyang berulang kali menegaskan bahwa program nuklirnya adalah hak berdaulat dan tidak dapat dijadikan bahan negosiasi. Dalam konteks itu, seruan ASEAN tampaknya dipandang Pyongyang bukan sebagai inisiatif regional yang tulus, melainkan sebagai bagian dari tekanan terkoordinasi yang dimotori Washington.
Kritik Kim Yo Jong juga mencerminkan ketegangan yang lebih luas antara Korea Utara dan komunitas internasional di tengah kebuntuan diplomasi nuklir yang sudah berlangsung bertahun-tahun. Sejak perundingan antara Pyongyang dan Washington mandek pasca-pertemuan Hanoi 2019, Korea Utara semakin menutup diri dan justru mempercepat pengembangan kapabilitas militernya.
Bagi ASEAN, pernyataan Kim Yo Jong menempatkan blok ini dalam posisi yang tidak mudah. Di satu sisi, negara-negara anggota memiliki kepentingan terhadap stabilitas kawasan dan bebas dari ancaman nuklir. Di sisi lain, ASEAN selama ini menjunjung prinsip non-intervensi dan dialog, sehingga serangan verbal dari Pyongyang berpotensi mempersulit ruang diplomatik yang tersisa antara kedua pihak.
Tag: Korea Utara, ASEAN, Denuklirisasi, Kim Yo Jong, Geopolitik Asia