Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Internasional

Antara Jeda dan Ancaman: Trump Tahan Eskalasi ke Iran, Militer AS Tetap Siaga

2026-07-27 22:31 WIB · aindari · 👁 1rb dibaca

Trump menghentikan sementara serangan ke Iran setelah 13 hari operasi militer, namun perintah baru masih bisa keluar kapan saja di tengah upaya diplomasi negara-negara Teluk.

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran memasuki fase baru yang penuh ketidakpastian. Presiden Donald Trump memang memerintahkan penghentian serangan lebih lanjut pada Jumat pekan lalu, mengakhiri rangkaian operasi militer yang berlangsung selama 13 hari berturut-turut — namun opsi untuk kembali menyerang tetap terbuka di tangannya.

Menurut laporan The Wall Street Journal yang dikutip RIA Novosti, keputusan Trump menahan eskalasi bukan semata pertimbangan diplomatik. Para pejabat AS menyebut kekhawatiran nyata soal persediaan rudal pertahanan udara yang sudah menipis secara berbahaya sebagai salah satu faktor yang membuat Trump urung meningkatkan kampanye militer secara tajam. Di sisi lain, Axios melaporkan bahwa militer AS tetap menyusun rencana kontingensi untuk aksi militer berskala besar terhadap Iran, meski belum ada perintah eksekusi dari Trump.

Konflik ini bermula sejak 28 Februari, ketika ketegangan antara kedua negara pertama kali memanas. Pada malam menjelang 18 Juni, Teheran dan Washington sempat menandatangani nota kesepahaman untuk mengakhiri pertikaian. Namun gencatan itu tak bertahan lama — sejak 8 Juli, pasukan AS kembali melancarkan beberapa gelombang serangan ke Iran. Komando Pusat AS (US Central Command) menyatakan serangan-serangan itu merupakan respons atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.

Iran membalas dengan menyerang pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah. Eskalasi terus meningkat hingga pada 12 Juli, Teheran mengumumkan penutupan Selat Hormuz — jalur pelayaran vital bagi perdagangan energi global — sampai AS menghentikan campur tangannya di kawasan itu. Sehari berselang, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat akan bertindak sebagai "penjaga" selat tersebut, sekaligus memberlakukan kembali blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Di tengah ancaman yang masih menggantung, jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup. The Wall Street Journal melaporkan bahwa sejumlah negara Teluk, termasuk Oman dan Qatar, tengah berupaya menghidupkan kembali proses perundingan antara kedua pihak. Namun dengan militer AS yang tetap dalam posisi siaga dan Trump yang sewaktu-waktu bisa mengeluarkan perintah baru, situasi di kawasan masih jauh dari stabil.

Tag: Iran, Donald Trump, Selat Hormuz, konflik AS-Iran, Timur Tengah