Diaz-Canel Tuduh AS Jalankan Strategi 'Cekik Ekonomi' untuk Kuasai Kuba
2026-07-28 06:12 WIB · aindari · 👁 989 dibaca

Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel menuding Washington sengaja memperketat blokade ekonomi demi memaksa rakyat Kuba memberontak dan menggulingkan pemerintahannya sendiri.
Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel melancarkan tuduhan keras terhadap Amerika Serikat dalam peringatan 73 tahun Hari Pemberontakan Nasional yang digelar di Provinsi Pinar del Rio, Kuba bagian barat, Minggu (26/7). Ia menyebut Washington sedang menjalankan kebijakan yang secara terang-terangan bertujuan mengambil alih kendali atas negara pulau itu.
Menurut Diaz-Canel, pemerintah AS menerapkan apa yang ia sebut sebagai kebijakan 'pencekikan ekonomi maksimal' — sebuah strategi yang mencakup embargo energi dan pemblokiran akses keuangan Kuba. Ia menegaskan bahwa langkah-langkah tersebut telah memperparah krisis kelistrikan di dalam negeri, memicu pemadaman listrik yang berlangsung lebih dari satu hari penuh dan melumpuhkan sektor industri.
Diaz-Canel menggambarkan blokade AS sebagai instrumen perang, bukan sekadar kebijakan ekonomi. Ia menyatakan bahwa menyiksa rakyat Kuba melalui blokade dengan harapan mereka berbalik menentang pemerintahnya sendiri merupakan sebuah kejahatan. Ia juga menyinggung dampak sanksi tersebut terhadap sistem kesehatan Kuba, dan menyebutnya sebagai bentuk genosida yang direncanakan secara sistematis. Diaz-Canel menambahkan bahwa tindakan paksaan sepihak AS itu setiap tahun dikecam oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Di tengah tekanan tersebut, Diaz-Canel menegaskan Kuba tidak akan mundur. Ia menyebut negaranya sedang berjuang keras mempertahankan kedaulatan dan hak untuk menentukan sendiri bentuk pemerintahannya. Ia juga membantah narasi bahwa Kuba merupakan ancaman bagi siapa pun, dan justru memposisikan negaranya sebagai bangsa yang mengirimkan dokter dan tenaga pengajar ke negara-negara yang membutuhkan, bukan kekuatan militer.
Dalam pidato yang sama, Diaz-Canel mengungkapkan rencana pemulihan domestik. Pemerintah Kuba baru saja menyetujui program berisi 176 langkah yang disebut sebagai perubahan mendalam dan penting. Program itu mencakup dorongan terhadap model manajemen baru, pemberdayaan pekerja dan petani, serta pembukaan ruang bagi investasi yang bertanggung jawab. Ia menyatakan Kuba akan merespons blokade bukan dengan kepanikan, melainkan dengan efisiensi kerja dan persatuan nasional.
Hari Pemberontakan Nasional sendiri merujuk pada peristiwa 26 Juli 1953, ketika Fidel Castro bersama sekitar 100 pengikutnya berupaya merebut Barak Moncada di Santiago de Cuba — benteng militer terbesar kedua milik rezim diktator Fulgencio Batista — serta Barak Carlos Manuel de Cespedes di kota Bayamo yang berdekatan. Meski serangan itu gagal, momen tersebut menjadi tonggak simbolis lahirnya gerakan revolusi Kuba.
Tag: Kuba, Amerika Serikat, embargo, Miguel Diaz-Canel, kedaulatan