Di Tengah Ketegangan Militer, Trump Ungkap Negosiasi AS-Iran Berjalan Hangat
2026-07-28 10:31 WIB · aindari · 👁 970 dibaca

Trump menyebut perundingan dengan Iran berlangsung bersahabat, meski ancaman serangan militer lanjutan tetap terbuka jika kesepakatan gagal.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan bahwa negosiasi antara Washington dan Teheran tengah berjalan dalam suasana yang kondusif. Pernyataan itu disampaikan Trump dalam pidatonya di Milford, Michigan, pada Senin (27/7), di mana ia menyebut kedua pihak kini terlibat dalam pembicaraan yang sangat bersahabat, meski sebelumnya AS melancarkan tekanan keras terhadap Iran.
Dalam kesempatan yang sama, Trump mengungkapkan bahwa Iran telah meminta agar blokade laut yang diberlakukan Amerika terhadap negara itu segera dicabut. Ia juga menyebut Iran telah mengajukan pertemuan langsung dengan pihak AS — sebuah sinyal yang menunjukkan adanya keinginan dari Teheran untuk membuka jalur diplomatik lebih lanjut.
Namun Trump tidak menutup kemungkinan eskalasi. Ia menegaskan bahwa apabila kesepakatan gagal tercapai, AS dapat kembali mengaktifkan operasi militernya. Pernyataan ini muncul setelah laporan Axios pada Sabtu (25/7) — mengutip sumber anonim — menyebutkan bahwa Trump telah menginstruksikan penghentian sementara serangan lanjutan terhadap Iran, mengakhiri rentetan serangan yang telah berlangsung selama 13 hari berturut-turut.
Ketegangan antara kedua negara ini memiliki latar belakang yang panjang. AS dan Iran sempat menandatangani memorandum perdamaian pada 18 Juni untuk menghentikan konflik yang meletus sejak 28 Februari. Namun gencatan senjata itu tidak bertahan lama — pasukan AS kembali menyerang Iran mulai 8 Juli. Komando Pusat AS (CENTCOM) berdalih serangan tersebut merupakan respons atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal dagang yang melintas di Selat Hormuz.
Iran pun membalas. Serangan balasan diluncurkan terhadap sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah. Situasi semakin memanas ketika pada 12 Juli Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz — jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi perdagangan energi global — hingga campur tangan AS di kawasan itu berakhir.
Merespons langkah tersebut, Trump pada 13 Juli menyatakan AS akan bertindak sebagai "pelindung" Selat Hormuz, sekaligus mengumumkan dimulainya kembali blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Rangkaian aksi dan reaksi ini membentuk pola konflik yang berulang di antara kedua negara, bahkan setelah adanya perjanjian damai sekalipun.
Kini, dengan negosiasi yang disebut Trump berjalan hangat, perhatian tertuju pada apakah pembicaraan ini akan menghasilkan kesepakatan yang lebih tahan lama — atau sekadar jeda sementara sebelum babak konflik berikutnya.
Tag: AS-Iran, Donald Trump, Selat Hormuz, diplomasi, konflik Timur Tengah