Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Internasional

Iran Ancam Kapal Perang Eropa dan Tolak Kembalikan Status Selat Hormuz

2026-07-29 13:31 WIB · aindari

Teheran menegaskan tidak akan membiarkan Selat Hormuz kembali ke kondisi sebelum perang dan siap menghadapi eskalasi militer demi mempertahankan kendali atas jalur perairan strategis itu.

Iran mengeluarkan pernyataan keras soal Selat Hormuz, menegaskan bahwa jalur perairan yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia itu tidak akan dikembalikan ke kondisi seperti sebelum pecahnya perang. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Bidang Hukum dan Urusan Internasional, Kazem Gharibabadi, menyampaikan hal itu dalam wawancara dengan televisi pemerintah Iran, IRIB TV, pada Selasa (28/7).

Gharibabadi menyebut Selat Hormuz kini merupakan bagian dari kapasitas pertahanan baru Iran dan masuk dalam kerangka keamanan nasional negara itu. Menurutnya, jika situasi di selat tersebut kembali seperti sebelum perang, keberhasilan Iran dalam konflik itu tidak akan dianggap sempurna. Ia juga menegaskan bahwa Iran tidak gentar jika perang kembali meletus demi menegakkan kedaulatannya atas selat itu.

Salah satu pernyataan paling tajam dari Gharibabadi adalah peringatan terhadap kapal perang Eropa. Ia menyatakan bahwa setiap kapal perang Eropa yang mencoba mendekati Selat Hormuz akan diperlakukan sebagai sasaran yang sah. Pernyataan ini menambah ketegangan di kawasan yang sudah berada dalam tekanan tinggi sejak Iran memperketat kontrol atas selat tersebut pada 28 Februari lalu, ketika Teheran melarang perlintasan aman bagi kapal-kapal milik atau terafiliasi dengan Israel dan Amerika Serikat menyusul serangan gabungan kedua negara itu ke wilayah Iran.

Di sisi diplomatik, Gharibabadi mengungkapkan dinamika negosiasi yang sedang berlangsung dengan Oman. Muscat mengusulkan skema pengelolaan bersama dengan pembagian kendali 50-50 atas selat itu, termasuk rencana melibatkan pihak ketiga untuk operasi pembersihan ranjau di bagian selatan. Iran menolak kedua usulan tersebut. Menurut Gharibabadi, membiarkan rute selatan tetap terbuka akan merusak kedaulatan Iran atas selat itu secara keseluruhan.

Sebagai gantinya, Iran mengajukan proposal sendiri: kendali penuh atas jalur masuk Selat Hormuz dan kendali sebagian atas jalur keluarnya. Gharibabadi menyatakan jika Oman menerima tawaran itu, pembicaraan akan berlanjut ke tahap berikutnya. Namun jika tidak, selat akan tetap tertutup dan Iran menyatakan kesiapannya menghadapi kelanjutan perang.

Terkait hubungan dengan Washington, Gharibabadi menyebut bahwa dalam 15 hari terakhir Iran tidak mengajukan permintaan negosiasi kepada AS. Justru sebaliknya, pihak Amerika yang meminta pembicaraan dan menyampaikan pesan melalui Oman bahwa mereka tidak akan melancarkan tindakan militer terhadap Iran. Sejak pembatasan navigasi diberlakukan, harga energi global dilaporkan melonjak dan situasi memicu gelombang serangan udara AS terhadap Iran, menunjukkan betapa sensitifnya jalur ini bagi stabilitas pasar dan geopolitik kawasan.

Tag: Iran, Selat Hormuz, Kazem Gharibabadi, Oman, Timur Tengah