Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Pendidikan

MUI Peringatkan Tradisi Sanad Ilmu Terancam di Tengah Dominasi Algoritma AI

2026-07-29 17:04 WIB · aindari · 👁 464 dibaca

MUI menilai sistem belajar guru-murid dalam Islam berpotensi tergerus jika lembaga keagamaan tidak bergerak aktif menguasai teknologi kecerdasan buatan.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyuarakan kekhawatiran serius terhadap ancaman teknologi kecerdasan buatan (AI) terhadap tradisi keilmuan Islam, khususnya sistem sanad yang selama ini menjadi tulang punggung pendidikan agama di Nusantara. Peringatan ini disampaikan dalam Workshop "Amplifikasi Literasi Keislaman Digital Era AI" yang digelar Komisi Infokomdigi MUI bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI di Kantor MUI Pusat, Jakarta, Rabu.

Ketua MUI Bidang Informasi, Komunikasi, dan Digital, Masduki Baidlowi, yang tampil sebagai pembicara kunci, menyebut kondisi saat ini sebagai "perang algoritma". Ia menyoroti bagaimana AI kini telah jauh melampaui kemampuan membuat teks atau gambar biasa — teknologi ini telah berkembang menjadi AI agen yang sanggup merencanakan, berdiskusi, hingga mengeksekusi keputusan secara mandiri dan terperinci.

Salah satu dampak yang paling dicemaskan adalah munculnya fenomena echo chamber, yakni kondisi di mana seseorang hanya menerima informasi yang sesuai dengan preferensinya sendiri karena algoritma menyajikan jawaban berdasarkan selera pengguna. Dalam konteks keagamaan, pola ini berbahaya karena mendorong pemahaman agama yang bersifat instan dan personal, bukan hasil proses belajar bersama guru yang kompeten. Masduki menyebut gejala ini sebagai dekonstelasi cara beragama generasi muda, di mana agama lebih dipahami sebagai ekspresi ego ketimbang pencarian hidayah yang terstruktur. Akibatnya, rantai pemahaman Islam yang moderat dan sahih — yang dikenal sebagai wasathiyah — berisiko terputus.

Meski demikian, MUI tidak mengambil posisi menolak AI sepenuhnya. Masduki menegaskan bahwa AI pada dasarnya adalah alat yang harus dikuasai manusia, bukan sebaliknya. Ia mendorong agar teknologi ini dimanfaatkan untuk menyebarkan nilai-nilai keislaman yang damai, mempermudah layanan seperti zakat, serta mendukung proses belajar mengaji — dengan catatan tetap berada di bawah verifikasi para ulama. Ia juga mengingatkan bahwa MUI harus diisi oleh sumber daya manusia berkapasitas tinggi agar tetap relevan dan dipercaya oleh generasi muda, bukan menjadi lembaga yang hanya reaktif.

Senada dengan itu, Ketua Komisi Infokomdigi MUI, Hari Usmayadi, menegaskan bahwa tantangan dakwah masa kini bukan lagi soal cara menyampaikan materi secara konvensional, melainkan soal kemampuan memenangkan perhatian publik di ruang digital. Ia mengingatkan agar konten keislaman yang menyejukkan dan berlandaskan ilmu tidak sampai kalah bersaing dengan konten-konten merusak, seperti promosi pinjaman online ilegal, propaganda yang bertentangan dengan nilai agama, hingga kemunculan figur-figur yang berani memberikan pandangan keagamaan tanpa dasar keilmuan yang memadai.

Tag: MUI, kecerdasan buatan, sanad ilmu, literasi digital, pendidikan Islam