Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Internasional

Perseteruan AS-Iran di Selat Hormuz Diprediksi Berlangsung Berbulan-bulan

2026-07-30 00:01 WIB · aindari · 👁 422 dibaca

Pejabat dari tiga pihak memperkirakan konflik AS-Iran akan terus membara dalam intensitas rendah, sementara negosiasi diplomatik masih berjalan.

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran diperkirakan belum akan mereda dalam waktu dekat. Laporan Bloomberg yang mengutip sejumlah pejabat AS, Iran, dan Eropa menyebut perselisihan kedua negara — khususnya soal status Selat Hormuz — berpotensi berlarut hingga berbulan-bulan ke depan.

Pola yang terbentuk dalam beberapa pekan terakhir menggambarkan siklus yang berulang: bentrokan berskala terbatas, jeda singkat, lalu permusuhan kembali muncul. Para pejabat yang dikutip Bloomberg menilai skenario paling realistis adalah konflik yang terus berlangsung meski tidak dalam skala besar, sementara negara-negara kawasan seperti negara-negara Teluk dan Pakistan berupaya menjadi peredam ketegangan karena tidak menghendaki eskalasi penuh.

Meski demikian, jalur diplomasi belum tertutup. Perundingan antara Teheran dan Washington disebut masih berjalan dan dinilai menunjukkan perkembangan positif, dengan kemungkinan tercapainya kesepakatan diplomatik pada akhirnya. Namun hambatan besar tetap ada: Trump dikabarkan tidak akan mundur sebelum Iran memberikan konsesi konkret terkait Selat Hormuz, sementara Iran sendiri menyadari bahwa kemampuan AS untuk menggencarkan serangan militer dibatasi oleh menyusutnya cadangan minyak global dan berkurangnya pasokan persenjataan.

Kronologi konflik ini bermula dari memorandum yang ditandatangani kedua pihak pada 18 Juni untuk mengakhiri pertikaian yang telah berlangsung sejak 28 Februari. Namun kesepakatan itu tidak bertahan lama. Mulai 8 Juli, militer AS melancarkan serangkaian serangan terhadap Iran, yang diklaim sebagai respons atas gangguan Iran terhadap kapal-kapal dagang di Selat Hormuz. Iran membalas dengan menyerang sejumlah pangkalan AS di Timur Tengah.

Eskalasi memuncak pada 12 Juli ketika Iran secara resmi mengumumkan penutupan Selat Hormuz sampai AS menghentikan campur tangannya di kawasan tersebut. Sehari berselang, Trump menyatakan AS akan bertindak sebagai "penjaga" jalur perairan strategis itu dan sekaligus memberlakukan kembali blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi lalu lintas energi global, sehingga eskalasi di sana membawa risiko luas bagi pasar minyak dan stabilitas kawasan. Inggris dan Prancis sebelumnya juga dilaporkan menolak ikut serta dalam patroli di selat tersebut sebelum gencatan senjata dicapai, mencerminkan kehati-hatian sekutu Barat dalam menyikapi konflik yang masih cair ini.

Tag: AS-Iran, Selat Hormuz, konflik Timur Tengah, diplomasi, gencatan senjata