Alarm Dini: Banyak Siswa SD Sudah Punya Kadar Gula Darah Tinggi
2026-07-30 06:02 WIB · aindari · 👁 564 dibaca

Kemenkes menemukan tren mengkhawatirkan kadar gula darah tinggi pada anak usia sekolah dasar, memicu desakan kebijakan pengendalian konsumsi gula, garam, dan lemak.
Masalah kesehatan yang selama ini identik dengan orang dewasa kini mulai merambah anak-anak usia sekolah dasar. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan bahwa indikasi awal risiko penyakit tidak menular sudah terdeteksi pada kelompok usia tersebut, ditandai dengan tingginya kadar gula darah yang seharusnya berada dalam batas normal.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, menyampaikan temuan ini dalam sebuah diskusi publik bertema penentuan batas maksimal kandungan gula, garam, dan lemak (GGL) yang digelar di Jakarta pada Rabu. Ia menegaskan bahwa kondisi ini tidak wajar mengingat anak-anak seharusnya memiliki kadar gula darah normal seiring tingginya aktivitas fisik mereka sehari-hari.
Secara medis, kadar gula darah anak dikelompokkan berdasarkan usia. Anak di bawah 6 tahun berada pada kisaran 100–200 mg/dL, anak usia 6 hingga 12 tahun sekitar 70–150 mg/dL, sementara remaja di atas 12 tahun idealnya di bawah 140–180 mg/dL. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan banyak anak yang melampaui ambang batas tersebut.
Siti Nadia memperingatkan bahwa kadar gula darah tinggi sejak dini menyimpan risiko jangka panjang yang serius. Jika kondisi ini tidak ditangani, anak-anak tersebut berpotensi mengalami penyakit jantung, stroke, hingga gangguan ginjal saat memasuki usia produktif sekitar 40 tahun. Mekanismenya, menurut dia, berkaitan dengan kemampuan gula merusak pembuluh darah di seluruh tubuh.
Ia juga meluruskan pemahaman yang masih keliru di masyarakat soal diabetes melitus. Selama ini banyak orang mengira penyakit gula hanya berdampak pada kadar gula darah atau komplikasi seperti luka di kaki. Padahal diabetes dapat merusak pembuluh darah secara menyeluruh dan menjadi pemicu berbagai penyakit mematikan lainnya, termasuk serangan jantung — yang sebelumnya lebih diasosiasikan dengan hipertensi. Siti Nadia menyebut diabetes melitus sebagai "mother of disease".
Menghadapi tren ini, Kemenkes mendorong pemerintah untuk segera menetapkan kebijakan yang mengatur batas maksimum konsumsi GGL. Tanpa intervensi regulasi yang konkret, kata Siti Nadia, tren buruk pada anak-anak ini dikhawatirkan akan terus berlanjut dan membebani sistem kesehatan nasional di masa mendatang.
Tag: gula darah anak, penyakit tidak menular, Kemenkes, diabetes melitus, GGL