Kaltara Tawarkan Proyek Hijau dan PLTA sebagai Daya Tarik Kolaborasi dengan Sabah
2026-07-31 06:12 WIB · aindari · 👁 401 dibaca

Gubernur Kalimantan Utara memamerkan deretan proyek strategis provinsinya dalam forum kerja sama perbatasan Indonesia-Malaysia ke-28.
Kalimantan Utara tengah membangun fondasi ekonomi baru lewat sejumlah proyek berskala besar. Gubernur Zainal A Paliwang menyebut proyek-proyek itu mencakup Kawasan Industri Hijau Indonesia, Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional Tanah Kuning–Mangkupadi, pembangkit listrik tenaga air Kayan Cascade, hilirisasi perikanan dan rumput laut, serta pengembangan energi hijau secara lebih luas.
Menurut Zainal, rangkaian proyek tersebut bukan sekadar agenda pembangunan lokal. Ia menegaskan bahwa potensi yang dimiliki Kaltara dapat menjadi penopang rantai pasok Ibu Kota Nusantara, sekaligus mendorong kawasan perbatasan tumbuh sebagai pusat ekonomi yang kompetitif dan berkelanjutan.
Pernyataan itu disampaikan Zainal dalam Sidang ke-28 Kelompok Kerja Sosial Ekonomi Malaysia-Indonesia atau Sosek Malindo. Forum tersebut dihadiri langsung oleh Ketua Jawatan Kuasa Kerja Sosek Malindo Negeri Sabah, Datuk Jamili Nais, beserta delegasinya, serta perwakilan dari Konsulat RI di Tawau, Kementerian Dalam Negeri, Badan Nasional Pengelola Perbatasan, dan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Kaltara.
Sidang ke-28 ini merupakan kelanjutan dari pertemuan sebelumnya yang berlangsung di Sandakan, Malaysia, pada 2025. Agenda utamanya adalah mengevaluasi pelaksanaan program kerja yang telah disepakati, mengidentifikasi hambatan yang masih ada, serta menyusun agenda kerja sama baru antara kedua wilayah perbatasan.
Zainal menilai pembangunan IKN membuka ruang kolaborasi yang lebih luas antara Kaltara dan Sabah, meliputi perdagangan, investasi, logistik, ketenagakerjaan, pariwisata, hingga ketahanan pangan. Ia berharap rekomendasi yang lahir dari sidang ini bersifat realistis, dapat dijalankan, dan benar-benar memberi manfaat bagi warga di kedua sisi perbatasan.
Hubungan Kaltara dan Sabah, menurut Zainal, memiliki nilai strategis yang melampaui sekadar kedekatan geografis. Kesamaan budaya dan ikatan sosial yang sudah lama terjalin membuat kawasan perbatasan ini berkembang sebagai ruang kehidupan bersama, dengan aktivitas perdagangan, pendidikan, dan pertukaran budaya yang terus berlangsung.
Sebagai tuan rumah sidang kali ini, Zainal menyampaikan bahwa kehadiran seluruh delegasi mencerminkan komitmen bersama untuk mempererat hubungan Indonesia dan Malaysia, khususnya antara Kaltara dan Sabah. Ia mendorong seluruh peserta mengedepankan semangat musyawarah dan saling menghormati dalam setiap pembahasan.
Tag: Kalimantan Utara, Sosek Malindo, kawasan industri, PLTA Kayan, perbatasan Indonesia-Malaysia