Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Peternakan

Mangrove Pulih, Tambak Produktif: Kisah Petambak Sepatin yang Rasakan Langsung Manfaat Rehabilitasi

2026-08-01 06:09 WIB · aindari · 👁 654 dibaca

Petambak di Desa Sepatin, Kutai Kartanegara, merasakan peningkatan hasil panen setelah kawasan mangrove di sekitar tambak mereka dipulihkan melalui program M4CR.

Selama bertahun-tahun, Andi Firmansyah menyaksikan hasil tambaknya terus merosot. Petambak yang telah mengelola lahan di Desa Sepatin, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, sejak 1995 itu mengaitkan penurunan produksi dengan berkurangnya tutupan mangrove di sekitar kawasan tambak. Kini, setelah lahan tersebut kembali ditanami bakau jenis Rhizophora melalui program rehabilitasi Mangroves for Coastal Resilience (M4CR), kondisi tambaknya berangsur membaik.

Firmansyah, yang juga menjabat Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Mangrove Borneo, menyampaikan pengalamannya dalam acara Temu Media bersama Masyarakat Pesisir Desa Sepatin, Jumat. Ia menegaskan perubahan positif itu bukan sekadar laporan, melainkan sesuatu yang ia alami sendiri di lahannya. Keberadaan mangrove, menurutnya, berperan ganda: melindungi tambak dari ancaman abrasi sekaligus mendukung pemulihan produktivitas yang sempat anjlok akibat kerusakan ekosistem pesisir.

Pengalaman nyata itu mendorong Firmansyah dan kelompoknya untuk mengajak sesama petambak agar turut menanam mangrove di lahan masing-masing. Ia menilai dorongan paling efektif bukan sekadar imbauan, melainkan bukti yang sudah mereka rasakan sendiri. KTH Mangrove Borneo pun aktif menjadi penggerak perluasan penanaman di lingkungan sekitar.

Program M4CR disebut berbeda dari upaya rehabilitasi sebelumnya karena mengedepankan keterlibatan langsung masyarakat. Mekanisme swakelola diterapkan mulai dari pembentukan kelompok, proses penanaman, hingga tahap pemeliharaan tanaman. Pendekatan ini membuat warga bukan sekadar penerima manfaat, tetapi pelaku aktif dalam setiap tahapan program.

Dampaknya tidak berhenti pada pemulihan lingkungan. Ketua KTH Peduli Hutan Mangrove, Suardi, menyebutkan bahwa rangkaian kegiatan rehabilitasi—mulai dari persemaian bibit, penanaman, hingga penyediaan bibit mangrove—membuka sumber penghasilan tambahan bagi warga Desa Sepatin. Seluruh elemen kegiatan itu, menurut Suardi, berkontribusi nyata pada peningkatan perekonomian masyarakat setempat.

Secara teknis, capaian program ini tercatat dalam dokumen pelaksanaan M4CR. KTH Mangrove Borneo membukukan tingkat keberhasilan tumbuh tanaman sebesar 69 persen dari penanaman seluas 55 hektare yang dilakukan pada 2025. Pada 2026, kelompok ini melanjutkan penanaman di area yang jauh lebih luas, yakni 199 hektare, dan kegiatan tersebut masih berlangsung.

M4CR merupakan proyek yang didanai Bank Dunia dan dilaksanakan oleh Kementerian Kehutanan di bawah Direktorat Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH). Program ini menjadi salah satu upaya konkret pemulihan ekosistem pesisir Indonesia yang sekaligus menempatkan masyarakat lokal sebagai ujung tombak pelaksanaannya.

Tag: mangrove, tambak, rehabilitasi pesisir, Kutai Kartanegara, M4CR