Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Peternakan

Kaltim Incar Industri Pengolahan Walet Demi Kurangi Ketergantungan pada Migas

2026-08-23 17:03 WIB · aindari · 👁 925 dibaca

Pemprov Kaltim menjalin kerja sama dengan perusahaan pengolahan sarang burung walet asal Jawa Tengah untuk membangun fasilitas produksi di daerah dan mendorong pendapatan non-migas.

Kalimantan Timur tengah berupaya memaksimalkan potensi sarang burung walet sebagai sumber pendapatan daerah di luar sektor minyak dan gas bumi. Langkah konkret diambil dengan menggandeng perusahaan swasta dari Jawa Tengah agar industri pengolahan komoditas bernilai tinggi ini bisa dibangun langsung di Kaltim.

Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji mengunjungi PT Esta Indonesia Tbk (NEST) di Terboyo Industrial Park, Kota Semarang, sebagai tindak lanjut penandatanganan Kesepakatan Bersama dan Perjanjian Kerja Sama antara Pemprov Kaltim dan Pemprov Jawa Tengah yang diteken oleh masing-masing gubernur di Samarinda pada awal Agustus 2026. Dalam kunjungan itu, Seno Aji diterima langsung oleh Direktur Utama sekaligus pendiri PT Esta Indonesia Tbk, Hoo Anton Siswanto, bersama pejabat dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Jawa Tengah.

Seno Aji menyebut potensi ekonomi dari kerja sama ini cukup signifikan. Omzet pengolahan sarang walet diperkirakan mencapai Rp50 miliar hingga Rp60 miliar per bulan, yang berpeluang menjadi sumber tambahan pendapatan asli daerah. Selain itu, industri ini dinilai mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar sehingga diharapkan turut menekan angka pengangguran di Kaltim. Ia berharap PT Esta Indonesia bersedia membangun fasilitas pencucian dan pengolahan sarang walet di Kaltim, termasuk kemungkinan ekspor langsung dari daerah tersebut. Pola investasinya, apakah melalui kerja sama dengan perusahaan daerah atau mekanisme lain, disebut masih terbuka untuk dirundingkan.

PT Esta Indonesia sendiri bukan pemain baru di industri ini. Perusahaan yang telah beroperasi sejak 1993 itu bahkan sudah memiliki sejumlah rumah burung walet di Kaltim, antara lain di Handil, Muara Badak, dan Marangkayu. Direktur Utamanya, Anton Siswanto, menyatakan kesiapan untuk berinvestasi di Kaltim. Ia menawarkan program pelatihan bagi tenaga kerja lokal yang nantinya dapat menerapkan keahlian pengolahan walet di pabrik yang akan dibangun di sana.

Data dari Balai Karantina Kalimantan Timur mencatat produksi sarang burung walet di provinsi ini mencapai sekitar 176,524 ton per tahun, yang dihasilkan dari sekitar 4.640 rumah walet yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota. Komoditas ini sudah menjadi salah satu produk ekspor unggulan Kaltim dengan pasar utama di China dan Australia. Dengan kehadiran fasilitas pengolahan di daerah, Kaltim berpotensi mendapatkan nilai tambah yang jauh lebih besar ketimbang sekadar mengekspor bahan baku mentah.

Tag: sarang burung walet, Kalimantan Timur, investasi peternakan, hilirisasi, pendapatan daerah