Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Kesehatan

Anak Kembali Bersekolah, Orang Tua Diminta Waspadai Ancaman Demam Berdarah

2026-08-01 17:12 WIB · aindari · 👁 855 dibaca

Dengan 59 persen kematian akibat DBD terjadi pada anak-anak, orang tua diimbau memprioritaskan langkah pencegahan saat tahun ajaran baru dimulai.

Memasuki periode kembali ke sekolah, ancaman demam berdarah dengue (DBD) terhadap anak-anak menjadi perhatian serius. Data menunjukkan bahwa 59 persen kematian akibat penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti ini terjadi pada kelompok usia anak. Angka tersebut menjadi alarm bagi para orang tua untuk tidak lengah dalam melindungi buah hati mereka.

Lingkungan sekolah menjadi salah satu titik rawan penularan DBD. Aktivitas anak-anak di ruang terbuka selama jam sekolah bertepatan dengan waktu nyamuk DBD paling aktif menggigit. Nyamuk Aedes aegypti diketahui memiliki jam-jam puncak aktivitas tertentu yang kerap bersinggungan dengan waktu anak berada di sekolah, sehingga risiko gigitan meningkat secara signifikan.

Indonesia sendiri masih menghadapi tantangan besar dalam menekan angka kematian akibat dengue. Pemerintah telah menetapkan target ambisius untuk mencapai nol kematian akibat DBD pada tahun 2030. Target ini menuntut kerja sama seluruh pihak, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, sektor swasta, hingga masyarakat luas, khususnya para orang tua yang menjadi garda terdepan perlindungan anak.

Sebagai bagian dari upaya pencegahan, sektor swasta turut berperan aktif. Enesis Group bersama merek Soffell menggalakkan kampanye promotif dalam rangka menyambut ASEAN Dengue Day 2026. Kampanye ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat di kawasan Asia Tenggara tentang bahaya DBD sekaligus mendorong langkah-langkah pencegahan yang konsisten.

Para orang tua diimbau untuk memprioritaskan pencegahan DBD dengan berbagai cara praktis. Langkah-langkah seperti memastikan anak menggunakan perlindungan anti nyamuk sebelum berangkat sekolah, memakaikan pakaian lengan panjang, serta memastikan lingkungan rumah dan sekolah bebas dari genangan air menjadi kunci utama. Selain itu, mengenali jam-jam puncak aktivitas nyamuk DBD penting agar orang tua dan pihak sekolah dapat mengambil tindakan pencegahan ekstra pada waktu-waktu tersebut.

Dengan angka kematian yang masih tinggi dan target nol kematian pada 2030, kesadaran kolektif menjadi kebutuhan mendesak. Penyakit DBD bukan ancaman yang bisa dianggap remeh, terutama bagi anak-anak yang rentan mengalami komplikasi serius. Momentum kembali ke sekolah seharusnya menjadi pengingat bagi seluruh pihak untuk meningkatkan kewaspadaan dan tidak menunda upaya pencegahan.

Tag: DBD, demam berdarah dengue, kesehatan anak, pencegahan penyakit, ASEAN Dengue Day