Indonesia Dorong Kolaborasi AI dengan China lewat Forum Pendidikan ASEAN di Guiyang
2026-08-03 06:08 WIB · aindari · 👁 453 dibaca

Sekjen Kemendikti Saintek hadir di Pekan Kerja Sama Pendidikan China-ASEAN 2026 dan mengusulkan kerja sama komplementer dua arah di bidang AI, mulai dari kurikulum hingga pengobatan tradisional.
Lebih dari 450 pejabat, akademisi, dan pelaku industri dari China serta negara-negara ASEAN berkumpul di Kota Guiyang, Provinsi Guizhou, China barat daya, dalam ajang Pekan Kerja Sama Pendidikan China-ASEAN 2026. Forum tahunan itu mengangkat tema pemanfaatan pendidikan berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk mempererat hubungan antarnegara kawasan.
Mewakili Indonesia untuk pertama kalinya dalam forum ini, Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Badri Munir Sukoco menyatakan Indonesia ingin menyerap pengalaman China dalam tiga hal utama: reformasi kurikulum berbasis AI, pelatihan tenaga pengajar, serta pemerataan kapasitas komputasi ke berbagai daerah. Menurutnya, ekosistem industri dan pendidikan AI China saat ini berada di garis terdepan secara global.
Badri mengaku terkesan dengan trajektori pembangunan digital Guizhou. Provinsi yang letaknya jauh dari pusat industri teknologi di pesisir China itu berhasil membangun diri sebagai pusat big data nasional — sebuah model yang ia nilai relevan bagi Indonesia. Ia melihat pendekatan Guizhou dalam mengembangkan keunggulan digital sesuai kondisi lokal sebagai pelajaran berharga bagi provinsi-provinsi di Indonesia yang juga tengah mengejar transformasi digital.
Dalam forum itu, Badri menyaksikan peluncuran model AI untuk pengobatan tradisional China (TCM) serta laboratorium AI yang mengintegrasikan industri, perguruan tinggi, dan riset. Ia mengusulkan agar kerja sama Indonesia-China dikembangkan secara komplementer: Indonesia memiliki kekayaan tanaman obat tradisional dan cadangan tanah jarang, sementara China unggul dalam infrastruktur dan teknologi AI. Perpaduan keduanya, menurut Badri, berpotensi mempercepat inovasi di sektor kesehatan maupun pengembangan material baru.
Badri juga menyinggung sisi risiko AI yang tidak bisa diabaikan. Ia menyebut AI sebagai paradoks — bernilai besar bila dimanfaatkan dengan tepat, namun berpotensi merusak bila disalahgunakan. Ancaman seperti deepfake, disinformasi, dan doxxing ia sebut sebagai prioritas yang harus diantisipasi melalui pendidikan tinggi yang sistematis. Kerja sama erat antara China dan ASEAN dinilainya krusial untuk memaksimalkan manfaat sekaligus meredam dampak negatif teknologi ini.
Di sisi kurikulum, Badri mendorong reformasi menyeluruh di perguruan tinggi Indonesia agar selaras dengan era AI. Model pembelajaran yang selama ini bertumpu pada buku teks perlu bertransformasi, dan sistem evaluasi akademik pun harus menyesuaikan diri. Ia berharap tahun depan lebih banyak perguruan tinggi Indonesia dapat ikut serta dalam forum serupa, khususnya di bidang pendidikan mendalam dan integrasi AI ke dalam kurikulum akademik.
Sejumlah nota kerja sama di bidang pendidikan digital antara perguruan tinggi Indonesia dan Guizhou dijadwalkan ditandatangani dalam rangkaian Pekan Kerja Sama Pendidikan China-ASEAN ini. Badri menegaskan bahwa kepercayaan adalah fondasi kolaborasi, dan pertemuan tatap muka seperti forum ini menjadi sarana penting untuk membangun serta memperbarui kepercayaan tersebut setiap tahunnya.
Tag: pendidikan AI, China-ASEAN, Kemendikti Saintek, kurikulum digital, kerja sama pendidikan