BRIN dan UGM Bersatu Berantas Virus pada Benih Bawang Putih Nasional
2026-08-03 17:15 WIB · aindari · 👁 630 dibaca

Riset dua tahun ini menyasar eliminasi virus yang menginfeksi hingga 80 persen sampel benih bawang putih dari berbagai sentra produksi.
Upaya memperkuat ketahanan pangan di sektor bawang putih mendapat dorongan baru. Pusat Riset Hortikultura BRIN menggandeng Fakultas Pertanian UGM untuk mengembangkan teknologi produksi benih bawang putih yang bebas virus dan bermutu tinggi melalui Program Riset dan Inovasi Strategis (PRIS). Kolaborasi ini menjadi respons atas persoalan mendasar yang selama ini menghambat produktivitas: bahan tanam yang terinfeksi virus tanpa disadari petani maupun produsen benih.
Hasil pengujian awal yang dilakukan tim UGM mengungkap fakta mengkhawatirkan. Pakar virologi tumbuhan UGM, Sedyo Hartono, menyebutkan bahwa sekitar 80 persen sampel yang diambil dari lima wilayah sentra produksi — Enrekang, Magelang, Temanggung, Tawangmangu, dan Yogyakarta — terdeteksi mengandung infeksi ganda dua jenis virus, yakni Onion yellow dwarf virus (OYDV) dan Shallot latent virus (SLV). Sampel tersebut mencakup umbi benih, umbi konsumsi, serta daun baik yang bergejala maupun yang tampak sehat secara visual.
Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan virus ini adalah sifatnya yang tidak selalu menampakkan gejala nyata di lapangan. Menurut Sedyo, dampak infeksi kerap tersamarkan oleh penyakit lain, terutama yang disebabkan jamur, sehingga petani sulit mendeteksinya secara kasat mata. Meski temuan ini sudah cukup signifikan, para peneliti mengingatkan bahwa data tersebut masih terbatas pada sampel yang diuji dan perlu diperluas melalui survei menyeluruh di berbagai sentra produksi bawang putih.
Kepala Pusat Riset Hortikultura BRIN sekaligus penanggung jawab PRIS bawang putih, Dwinita Wikan Utami, menegaskan bahwa teknologi eliminasi virus yang dikembangkan harus memenuhi tiga syarat utama: efektif, mudah diterapkan, dan terjangkau. Tujuannya agar teknologi ini kelak bisa diakses secara luas, tidak hanya oleh lembaga riset, tetapi juga oleh produsen benih dan petani di tingkat lapangan.
Riset ini dirancang berlangsung selama dua tahun dengan dua tahap utama. Tahap pertama berfokus pada validasi metode eliminasi virus dan pembangunan prototipe alat skala laboratorium. Pada tahap kedua, tanaman hasil eliminasi akan diuji langsung di lapangan, sekaligus mendorong pengembangan alat bersama mitra industri agar bisa diterapkan pada skala produksi benih yang lebih besar.
Cakupan PRIS bawang putih tidak berhenti pada eliminasi virus. Program ini juga menargetkan pengembangan varietas berumbi besar dari tipe softneck dan hardneck, varietas yang adaptif di dataran menengah, teknologi pematahan dormansi, serta basis data plasma nutfah berbasis fenotipe dan genotipe. Standar operasional produksi benih sehat dan bermutu turut masuk dalam daftar luaran yang dikejar.
Seluruh hasil riset ini nantinya akan diuji untuk mendukung pengembangan kawasan bawang putih, termasuk di Kawasan Swasembada Pangan, Air, dan Energi (KSPAE) Humbang Hasundutan, Sumatera Utara. Secara lebih luas, program ini diharapkan berkontribusi pada peningkatan produksi bawang putih dalam negeri dan menekan ketergantungan Indonesia terhadap pasokan impor.
Tag: bawang putih, BRIN, UGM, eliminasi virus, benih hortikultura