Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Pertanian

Bantul Hidupkan Kembali Budidaya Sorgum di Lahan Marginal demi Ketahanan Pangan

2026-08-02 17:05 WIB · aindari · 👁 699 dibaca

Pemerintah Kabupaten Bantul mendorong penanaman sorgum di lahan-lahan kurang produktif sebagai sumber karbohidrat alternatif pengganti beras sekaligus pakan ternak.

Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kembali menggalakkan budidaya sorgum setelah program serupa sempat terhenti hampir satu dekade lalu. Langkah ini ditempuh untuk memperkuat ketahanan pangan daerah dengan menyediakan pilihan bahan pokok di luar beras, sekaligus memanfaatkan lahan marginal yang selama ini tidak tergarap optimal.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul, Joko Waluyo, mengungkapkan bahwa sorgum sebenarnya pernah dibudidayakan di wilayah tersebut pada periode 2013 hingga 2015. Saat itu, areal tanamnya mencapai sekitar 100 hektare dengan salah satu sentra utama di Kalurahan Poncosari, Kapanewon Srandakan. Produktivitasnya pun terbilang menjanjikan, yakni sekitar enam hingga tujuh ton per hektare. Namun, pengembangan akhirnya terhenti karena harga jual yang terlalu rendah sehingga aspek pemasaran menjadi hambatan utama.

Kini Pemkab Bantul berencana memulai kembali budidaya sorgum di lokasi berbeda, yaitu Kalurahan Karangtengah, Kapanewon Imogiri. Program ini melibatkan kelompok tani setempat serta Pondok Pesantren Al Mahali Watu Ageng. Joko menekankan bahwa sorgum sangat cocok ditanam di lahan marginal yang jumlahnya cukup banyak di Bantul. Selain menghasilkan biji yang kaya karbohidrat sebagai pengganti nasi, batang dan daun tanaman ini juga bermanfaat sebagai pakan ternak sehingga nilai ekonominya lebih menyeluruh.

Dari sisi pelaksanaan di lapangan, Jazimah selaku Sekretaris Kelompok Tani Tamanmojo di Dusun Mojolegi, Kalurahan Karangtengah, menjelaskan bahwa penanaman sorgum memanfaatkan lahan Sultan Ground (SG) yang sebelumnya kurang produktif. Penanaman awal dijadwalkan pada Juli 2026 dan akan diperluas ke lahan baru secara bertahap.

Jazimah menegaskan bahwa program sorgum tidak akan mengganggu areal persawahan yang sudah ada. Di wilayahnya, lahan tanaman pangan mencapai sekitar 17 hektare dan mayoritas digunakan untuk padi. Budidaya sorgum secara khusus diarahkan ke hamparan lahan marginal berstatus SG yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal.

Harapan dari program ini tidak hanya soal diversifikasi pangan. Jazimah menyampaikan bahwa keberadaan sorgum dapat meningkatkan kesejahteraan petani maupun warga pondok pesantren yang terlibat. Dengan tersedianya sorgum, masyarakat bisa mengonsumsinya secara bergantian dengan beras sehingga ketergantungan terhadap satu jenis bahan pokok berkurang.

Keberhasilan program ini tentu akan bergantung pada kemampuan mengatasi kendala pemasaran yang pernah menghambat budidaya sorgum sebelumnya. Jika rantai pasok dan nilai jual dapat diperbaiki, sorgum berpotensi menjadi komoditas strategis bagi Bantul dalam memperkuat ketahanan pangan lokal.

Tag: sorgum, ketahanan pangan, Bantul, lahan marginal, diversifikasi pangan