Kota Palu Terapkan Sistem Hidroganik untuk Dorong Pertanian di Lahan Sempit Perkotaan
2026-08-02 17:15 WIB · aindari · 👁 673 dibaca

Pemerintah Kota Palu memperkenalkan budidaya hidroganik yang memadukan hidroponik organik dan perikanan guna mengoptimalkan lahan terbatas di kawasan urban.
Pemerintah Kota Palu, Sulawesi Tengah, mulai mengadopsi metode pertanian hidroganik sebagai solusi bagi keterbatasan lahan di wilayah perkotaan. Sistem ini menggabungkan prinsip hidroponik berbasis bahan organik dengan budidaya ikan dalam satu instalasi terpadu, sehingga memungkinkan warga kota memproduksi pangan secara lebih efisien di area yang sempit.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kota Palu, Lukman, menjelaskan bahwa hidroganik merupakan bagian dari konsep Urban Farming yang tengah didorong pemerintah setempat. Dalam sistem ini, tanaman ditanam menggunakan media campuran tanah dan bokashi di bagian atas instalasi, sementara di bawahnya terdapat kolam ikan. Hasil metabolisme ikan menyuplai unsur hara secara alami bagi tanaman, sehingga ketergantungan terhadap pupuk kimia dapat dikurangi secara signifikan.
Keunggulan lain dari metode ini adalah fleksibilitas komoditas yang bisa dibudidayakan. Satu unit instalasi hidroganik mampu menampung beragam jenis tanaman, mulai dari sayuran, cabai, tomat, bawang, hingga padi. Hal ini menjadikan sistem tersebut cukup adaptif untuk memenuhi berbagai kebutuhan pangan masyarakat kota.
Sebagai tahap awal implementasi, Pemkot Palu telah menyiapkan dua unit instalasi hidroganik. Pada kedua unit tersebut, ditebar sebanyak 3.000 benih ikan lele dan 1.000 benih ikan nila. Untuk komponen tanamannya, dipilih bawang varietas Lembah Palu dan bawang merah sebagai komoditas perdana yang dibudidayakan melalui sistem ini.
Upaya pengembangan tidak berhenti pada penyediaan infrastruktur. DPKP Kota Palu juga menyelenggarakan pelatihan budidaya hidroganik yang diikuti oleh 40 peserta dari berbagai kalangan, meliputi petani, Kelompok Wanita Tani (KWT), anggota dasawisma, dan penyuluh pertanian. Materi pelatihan disampaikan langsung oleh pemilik Bengkel Mimpi yang berasal dari Kabupaten Malang. Selain teknik budidaya, para peserta juga dilatih membuat komposter untuk mengolah sampah organik rumah tangga menjadi pupuk organik, baik dalam bentuk padat maupun cair.
Keterampilan pengolahan sampah organik tersebut direncanakan akan diintegrasikan ke dalam Program Kelurahan Menanam, sebuah inisiatif pengelolaan limbah organik di tingkat komunitas. Lukman menyatakan harapannya agar penerapan teknologi hidroganik mampu memperkuat ketahanan pangan daerah, meningkatkan ketersediaan pangan sehat bagi warga, sekaligus mewujudkan kawasan perkotaan yang lebih produktif dan ramah lingkungan.
Tag: hidroganik, urban farming, pertanian perkotaan, ketahanan pangan, Kota Palu