Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Ekonomi

Impor Migas Membengkak, Neraca Dagang Indonesia Defisit US$450,5 Juta pada Juni 2026

2026-08-04 06:09 WIB · aindari · 👁 871 dibaca

Lonjakan impor minyak dan gas dari Singapura hingga Amerika Serikat menjadi salah satu faktor yang menekan neraca perdagangan Indonesia ke zona defisit selama dua bulan berturut-turut.

Neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit sebesar US$450,5 juta pada Juni 2026, melanjutkan tren negatif yang sudah berlangsung dua bulan berturut-turut. Tekanan utama datang dari sisi impor minyak dan gas bumi (migas) yang mengalami kenaikan, dengan Singapura dan Amerika Serikat tercatat sebagai negara asal utama komoditas tersebut.

Kenaikan impor migas mencerminkan tingginya kebutuhan energi domestik yang belum sepenuhnya bisa dipenuhi dari produksi dalam negeri. Ketergantungan pada pasokan dari luar negeri membuat pos impor migas rentan terhadap fluktuasi harga global maupun nilai tukar rupiah, sehingga menjadi salah satu risiko struktural dalam neraca perdagangan Indonesia.

Di sisi ekspor, komoditas batu bara dan minyak sawit mentah (CPO) disebut menjadi penopang utama kinerja ekspor Indonesia, khususnya memasuki Juli 2026. Kedua komoditas andalan ini membantu menahan penurunan nilai ekspor yang lebih dalam di tengah tekanan dari sisi permintaan global. Sementara itu, ekspor ke Tiongkok tercatat melonjak 18,1 persen, menjadi salah satu penopang kinerja ekspor secara keseluruhan dan menunjukkan bahwa pasar Tiongkok masih menjadi mitra dagang strategis bagi Indonesia.

Meski demikian, surplus dari ekspor nonmigas belum cukup untuk mengimbangi defisit yang ditimbulkan oleh impor migas. Kondisi ini menempatkan neraca dagang Indonesia pada posisi yang perlu dicermati, terutama jika tren impor energi terus meningkat tanpa diimbangi kenaikan nilai ekspor yang sepadan.

Di tengah situasi ini, pemerintah melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia turut merespons isu penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi. Pernyataan tersebut muncul seiring dengan dinamika harga energi yang menjadi perhatian publik dan pelaku pasar. Sentimen seputar kebijakan energi domestik berpotensi memengaruhi persepsi pasar terhadap arah impor migas ke depan, meski dampak langsungnya terhadap neraca dagang masih bergantung pada sejumlah variabel lain, termasuk harga minyak dunia dan volume konsumsi dalam negeri.

Secara keseluruhan, defisit neraca dagang Juni 2026 menjadi sinyal bahwa ketahanan ekspor Indonesia masih menghadapi ujian. Diversifikasi pasar ekspor dan upaya menekan ketergantungan impor energi akan menjadi kunci untuk mengembalikan neraca perdagangan ke jalur surplus dalam jangka menengah.

Tag: neraca dagang, impor migas, ekspor Indonesia, defisit perdagangan, energi