Vance: AS Siap Kerahkan Kekuatan Militer, Ekonomi, dan Diplomasi untuk Akhiri Konflik dengan Iran
2026-08-06 17:07 WIB · aindari · 👁 310 dibaca

Wakil Presiden AS JD Vance menegaskan Washington akan menggunakan semua instrumen yang dimilikinya untuk menyelesaikan konflik dengan Iran, di tengah kebuntuan negosiasi dan meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz.
Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menyatakan negaranya tidak akan membatasi diri pada satu pendekatan dalam menghadapi Iran. Dalam wawancara dengan Fox News pada Rabu (5/8), ia menegaskan bahwa militer, ekonomi, dan diplomasi semuanya akan dikerahkan demi mencapai penyelesaian konflik yang dinilai tepat bagi kepentingan Amerika.
Menurut Vance, proses negosiasi dengan Iran terhambat oleh dua hal mendasar. Pertama, Iran dinilai sebagai mitra yang sangat sulit diajak bekerja sama. Kedua, sistem pemerintahan Iran sendiri terpecah antara kubu yang menginginkan perdamaian dan kelompok radikal yang justru ingin konflik terus berlanjut. Kondisi internal Iran yang tidak seragam itu, kata Vance, mempersulit jalannya perundingan.
Meski mengakui kerumitan situasi, Vance tetap optimistis bahwa konflik pada akhirnya bisa diselesaikan. Ia memperkirakan proses tersebut akan memakan waktu dan tidak berjalan mulus, namun meyakini Amerika Serikat akan keluar dalam posisi yang lebih kuat. Ia juga menyebut harga minyak berpotensi turun dan bertahan rendah seiring perkembangan situasi, serta menegaskan Iran tidak akan pernah diizinkan memiliki senjata nuklir.
Pernyataan Vance muncul di tengah ketegangan yang kembali memanas di kawasan Selat Hormuz. Bulan lalu, Amerika Serikat melancarkan serangan di wilayah Iran. Teheran membalasnya dengan menyerang apa yang disebutnya sebagai fasilitas dan peralatan militer AS di sejumlah negara Arab, yakni Yordania, Bahrain, dan Kuwait.
Sebelumnya, kedua negara sempat membuka ruang dialog. Pada 18 Juni, Washington dan Teheran menandatangani perjanjian kerangka dan memulai perundingan menuju kesepakatan final. Namun pembicaraan itu kemudian mandek karena perbedaan pandangan soal jaminan keamanan dan kebebasan navigasi di Selat Hormuz — jalur strategis yang menjadi titik panas ketegangan militer kedua pihak.
Presiden Donald Trump sebelumnya menyatakan lebih memilih jalur kesepakatan ketimbang konfrontasi bersenjata. Dalam sebuah acara di Las Vegas, Trump mengungkapkan bahwa ia tidak ingin ada korban jiwa. Namun ia juga menegaskan opsi militer tetap terbuka apabila diplomasi tidak membuahkan hasil. Sikap Vance dalam wawancara tersebut sejalan dengan posisi Trump — mengutamakan penyelesaian damai, tetapi tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan.
Tag: Iran, Amerika Serikat, JD Vance, Selat Hormuz, diplomasi