Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Daerah

Antrean BBM di Lombok Gerus Waktu dan Penghasilan Warga, Ojek Online Kehilangan Order

2026-08-06 17:12 WIB · aindari · 👁 622 dibaca

Antrean panjang di SPBU seluruh Pulau Lombok memaksa warga menghabiskan hingga setengah jam hanya untuk mengisi bahan bakar, berdampak langsung pada produktivitas dan pendapatan harian.

Kelangkaan bahan bakar minyak di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, memunculkan dampak yang lebih luas dari sekadar antrean panjang. Warga yang menggantungkan hidup pada mobilitas harian—seperti pengemudi ojek daring—merasakan tekanan langsung pada kantong mereka karena waktu produktif tersedot di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

Odik, seorang pengemudi ojek daring yang ditemui sedang mengantre di salah satu SPBU di Mataram pada Kamis, mengungkapkan bahwa antrean membuat dirinya kerap terlambat menjemput penumpang. Akibatnya, sejumlah penumpang mengeluh dan ada yang memilih membatalkan pesanan. Pendapatannya pun ikut menyusut karena waktu yang seharusnya digunakan menerima order justru habis di SPBU.

Antrean kendaraan terpantau merata di berbagai titik Pulau Lombok, mulai dari Lombok Timur hingga Kota Mataram. Di SPBU kawasan Lingkar Selatan Mataram, pengendara roda dua harus menunggu antara 15 hingga 30 menit sebelum bisa mengisi bensin. Durasi setengah jam itu setara dengan waktu tempuh perjalanan sejauh 20 kilometer dari Mataram menuju kawasan wisata Senggigi di Lombok Barat. Di wilayah perkotaan, antrean didominasi sepeda motor, sementara di daerah kabupaten yang menjadi sentra pertanian, kendaraan bak terbuka mendominasi barisan.

Keluhan serupa disampaikan Hapis, warga lain yang juga mengantre di Mataram. Menurutnya, kondisi ini membuat berbagai aktivitas masyarakat tertunda. Ia berharap pasokan dan distribusi BBM segera kembali normal agar waktu kerja tidak lagi banyak terbuang dan urusan sehari-hari bisa berjalan lancar.

Pertamina sebelumnya telah mendatangkan pasokan BBM sebesar 7.600 kiloliter ke Lombok melalui dua kapal yang tiba pada 3 Agustus 2026. Kapal pertama membawa 2.100 kiloliter Pertalite dan 500 kiloliter Pertamax, sedangkan kapal kedua mengangkut 2.000 kiloliter Pertalite dan 3.000 kiloliter Biosolar. Meski pasokan dalam jumlah besar itu telah masuk, antrean di berbagai SPBU dilaporkan masih berlanjut hingga saat ini.

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral NTB, Samsudin, menjelaskan bahwa panjang-pendeknya antrean di tiap SPBU dipengaruhi oleh pola konsumsi, waktu kedatangan konsumen, serta karakteristik pengguna di masing-masing lokasi. Ia menyebut konsumen Pertalite di Lombok memang mayoritas pengguna kendaraan roda dua, sehingga lonjakan permintaan membuat antrean sepeda motor tampak lebih mencolok dibanding kendaraan roda empat.

Tag: BBM Lombok, antrean SPBU, NTB, ojek online, Pertamina