AS Kaji Strategi Nuklir Baru, Pakar Peringatkan Risiko Eskalasi dengan Rusia dan China
2026-08-07 09:01 WIB · aindari · 👁 837 dibaca

Rencana Pentagon memperluas opsi senjata nuklir taktis menuai kritik dari Asosiasi Pengendalian Senjata yang khawatir strategi itu justru memperburuk stabilitas global.
Departemen Pertahanan Amerika Serikat tengah menyusun strategi nuklir baru yang menitikberatkan pada kemungkinan penggunaan senjata nuklir taktis berjangkauan pendek dalam skenario konflik dengan Rusia maupun China. Laporan mengenai rencana tersebut pertama kali diungkap NBC News, dan langsung memantik respons dari kalangan pengamat pengendalian senjata.
Asosiasi Pengendalian Senjata (ACA) menyampaikan keberatannya pada Kamis, 6 Agustus. Organisasi itu menilai penambahan opsi serangan nuklir taktis dalam doktrin militer AS berpotensi memperumit hubungan pencegahan nuklir yang selama ini sudah bersifat rapuh antara Washington dan negara-negara bersenjata nuklir lainnya. Lebih jauh, ACA memperingatkan bahwa langkah tersebut dapat meningkatkan risiko terjadinya perang nuklir.
Meski demikian, ACA tidak sepenuhnya menolak semua elemen perubahan yang diusulkan. Asosiasi itu mengakui bahwa penghapusan persyaratan 'pembatasan kerusakan' dari strategi yang ada berpotensi mengurangi sejumlah risiko tertentu. Namun, penguatan peran senjata nuklir taktis tetap menjadi titik keberatan utama, karena pengembangan kapabilitas semacam itu bisa ditafsirkan oleh pihak lain sebagai persiapan untuk melancarkan serangan pertama.
Di sisi lain, ACA juga menyoroti satu konsekuensi yang kerap luput dari perhatian: jika AS menolak konsep perluasan senjata nuklir taktis ini, hal itu justru bisa menghilangkan justifikasi bagi Amerika untuk terus memperbesar arsenal nuklirnya sebagai respons atas pertumbuhan kekuatan militer Rusia dan China. Penolakan tersebut bahkan dinilai dapat membuka ruang bagi negosiasi pengurangan senjata di masa mendatang.
Dari sisi Moskow, Presiden Rusia Vladimir Putin dalam wawancara bersama jurnalis AS Tucker Carlson pada 2024 menegaskan bahwa Rusia tidak memiliki niat untuk menyerang negara-negara anggota NATO, dan menyebut skenario semacam itu tidak masuk akal. Kremlin secara konsisten menyatakan bahwa Rusia tidak mengancam pihak mana pun, meski dalam beberapa tahun terakhir Moskow berulang kali menyoroti penguatan kehadiran militer NATO di dekat perbatasan barat Rusia sebagai ancaman terhadap kepentingan keamanannya.
Debat soal strategi nuklir AS ini muncul di tengah ketegangan geopolitik yang belum mereda antara Washington, Moskow, dan Beijing. Perubahan doktrin nuklir, sekecil apa pun, memiliki implikasi luas — tidak hanya bagi hubungan bilateral, tetapi juga bagi arsitektur keamanan global yang telah dibangun selama beberapa dekade terakhir.
Tag: nuklir, Amerika Serikat, Rusia, China, pengendalian senjata