Iran Siapkan Aturan Blokir Kapal AS dan Israel di Selat Hormuz
2026-08-07 09:01 WIB · aindari · 👁 850 dibaca

Parlemen Iran tengah mengkaji RUU yang akan melarang kapal-kapal Amerika Serikat dan Israel melintas di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia.
Parlemen Iran sedang memproses sebuah rancangan undang-undang yang berpotensi menutup akses Selat Hormuz bagi kapal-kapal Amerika Serikat dan Israel. Anggota Presidium Parlemen Iran, Alireza Salimi, mengonfirmasi hal ini pada Kamis (6/8), menyebut RUU tersebut kini berada di tangan Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri untuk ditelaah lebih lanjut.
Berdasarkan draf yang dikutip kantor berita Fars, larangan lintas selat itu tidak hanya menyasar kapal berbendera AS dan Israel, tetapi juga mencakup negara-negara lain yang dinilai Teheran sebagai pihak yang terlibat dalam operasi militer terhadap kelompok-kelompok yang disebut Iran sebagai "front perlawanan Islam". Muatan sipil maupun militer yang berkaitan dengan Israel pun ikut dilarang melewati perairan tersebut.
RUU itu juga memuat ketentuan yang lebih luas: negara atau individu yang dianggap telah merugikan Iran tidak akan mendapat izin melintas di Selat Hormuz maupun Teluk Persia sampai ganti rugi diselesaikan. Bagi pelanggar, sanksi berupa denda hingga 20 persen dari nilai total muatan yang dibawa siap menanti. Pemerintah Iran dan angkatan bersenjatanya disebut akan bertanggung jawab atas pengaturan lalu lintas, pemantauan kapal, serta keamanan lingkungan di kawasan tersebut.
Meski demikian, RUU ini belum menjadi hukum. Saat ini masih dalam tahap tinjauan para ahli, dan parlemen Iran telah meminta masukan dari kalangan pakar untuk menyempurnakan substansinya sebelum diproses lebih jauh.
Di sisi lain, perkembangan diplomatik yang berlawanan arah muncul hampir bersamaan. Sehari sebelum pernyataan Salimi, Axios melaporkan bahwa AS, Iran, dan Oman hampir mencapai kesepakatan sementara soal pemulihan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Fars kemudian menambahkan bahwa Iran dan Oman telah menyepakati mekanisme pengaturan jalur pelayaran, termasuk biaya transit yang mencakup layanan asuransi dan pengisian bahan bakar. Menurut sumber dari Kementerian Luar Negeri Iran, hanya Iran dan Oman yang akan memegang kewenangan mengatur lalu lintas di selat tersebut.
Dua perkembangan yang tampak kontradiktif ini mencerminkan dinamika tarik-ulur yang sedang berlangsung di sekitar Selat Hormuz — jalur yang menjadi salah satu titik paling strategis dalam rantai pasokan energi global. Proses legislasi di parlemen Iran dan negosiasi diplomatik yang berjalan paralel menunjukkan bahwa status selat ini masih jauh dari kepastian.
Tag: Selat Hormuz, Iran, Amerika Serikat, Israel, geopolitik