Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Internasional

Iran-Oman Capai Kesepahaman Awal soal Pembukaan Selat Hormuz 60 Hari

2026-08-07 13:31 WIB · aindari · 👁 627 dibaca

Kerangka kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz selama 60 hari telah disepakati Iran dan Oman, namun masih menunggu persetujuan lembaga keamanan tertinggi Iran.

Iran dan Oman dilaporkan telah menyepakati kerangka awal untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi pelayaran internasional selama 60 hari. Laporan ini bersumber dari saluran berita Al Hadath dan Al Arabiya yang berbasis di Arab Saudi, mengutip sejumlah pejabat tinggi, dan dipublikasikan pada Kamis (6/8).

Menurut sumber tersebut, kesepakatan ini dirancang untuk memulihkan arus pelayaran di jalur perairan strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab itu. Namun demikian, implementasinya belum dapat dipastikan karena masih memerlukan restu dari Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran. Pengumuman resmi diperkirakan baru akan keluar dalam beberapa hari ke depan.

Dalam skema teknis yang diusulkan, kapal-kapal yang memasuki selat akan melewati jalur yang berdekatan dengan perairan Iran, sementara kapal keluar akan menggunakan jalur di sisi Oman. Tidak ada biaya transit maupun biaya layanan yang akan dibebankan kepada pengguna jalur ini. Pihak-pihak regional juga diberi ruang untuk turut serta dalam prosedur teknis, termasuk pembersihan ranjau di kawasan tersebut.

Lebih jauh, sumber yang sama menyebut bahwa setelah kesepakatan ini mendapat persetujuan, Iran dan Amerika Serikat akan kembali merujuk pada nota kesepahaman perdamaian yang sebelumnya telah ditandatangani keduanya. Secara khusus, Paragraf 5 dalam nota tersebut yang mengatur pembukaan kembali dan jaminan keselamatan kapal-kapal niaga di Selat Hormuz akan diaktifkan kembali. Kontak tidak langsung antara Teheran dan Washington melalui para mediator disebut masih berjalan dan telah memasuki tahap akhir perundingan.

Latar belakang ketegangan ini bermula pada 28 Februari, ketika Iran memperketat kendalinya atas Selat Hormuz dengan melarang kapal-kapal milik atau berafiliasi dengan Israel dan AS melintas dengan aman. Langkah itu diambil menyusul serangan gabungan kedua negara tersebut terhadap wilayah Iran. Pada Juni lalu, Iran dan AS sempat menandatangani nota kesepahaman mengenai penghentian perang di berbagai front konflik, termasuk di Lebanon, dengan agenda perundingan lanjutan dalam jangka waktu 60 hari. Namun eskalasi terbaru di kawasan membuat kelanjutan proses itu berada dalam ketidakpastian.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia, tempat berlalunya sebagian besar ekspor minyak dari kawasan Teluk. Setiap gangguan di jalur ini berpotensi memicu gejolak di pasar energi global dan memperburuk sentimen terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah secara keseluruhan.

Tag: Selat Hormuz, Iran, Oman, Amerika Serikat, Timur Tengah