Kedelai Impor di Kudus Turun Rp400 per Kilogram Meski Rupiah Masih Tertekan
2026-08-09 17:10 WIB · aindari · 👁 336 dibaca

Harga kedelai impor di Kabupaten Kudus turun dari Rp10.800 menjadi Rp10.400 per kilogram, sementara stok di gudang melimpah hingga 70-an ton.
Pelaku industri tahu dan tempe di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, mendapat sedikit kelonggaran setelah harga kedelai impor mengalami penurunan pada pekan ini. Komoditas yang menjadi bahan baku utama tersebut kini dijual Rp10.400 per kilogram, turun Rp400 dari harga Rp10.800 per kilogram yang berlaku sejak Juli 2026.
Penurunan ini menarik perhatian karena berlangsung di tengah tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Manajer Primer Koperasi Tahu-Tempe Indonesia (Primkopti) Kabupaten Kudus, Amar Ma'ruf, menyebutkan bahwa kurs rupiah sempat menyentuh level Rp18.000 per dolar AS dan saat ini berada di kisaran Rp17.801. Biasanya, pelemahan rupiah memicu sentimen negatif yang mendorong kenaikan harga kedelai impor. Namun kali ini yang terjadi justru sebaliknya, dengan harga yang terus merosot secara bertahap.
Dari sisi ketersediaan, stok kedelai impor di gudang Primkopti Kudus terbilang melimpah, mencapai sekitar 70 ton. Jumlah tersebut masih bisa ditambah sesuai kebutuhan para pengusaha tahu dan tempe di wilayah itu. Kondisi pasokan yang memadai ini turut menjadi faktor yang memengaruhi dinamika harga.
Meski harga bahan baku turun, para produsen tahu dan tempe di Kudus memilih untuk tidak mengubah harga jual produk mereka. Menurut Amar Ma'ruf, pelaku usaha enggan menaikkan maupun menurunkan harga karena kompetitor juga mempertahankan harga lama. Situasi ini menciptakan semacam keseimbangan di pasar lokal, di mana semua pihak menahan diri untuk tidak mengambil langkah sepihak.
Sebagai alternatif bahan baku, kedelai lokal dari daerah Kayen, Kabupaten Pati, sudah mulai memasuki masa panen. Namun Amar Ma'ruf mengaku belum berencana menambah stok kedelai lokal mengingat pasokan kedelai impor masih mencukupi. Ia akan mempertimbangkan pembelian kedelai lokal hanya jika ada permintaan khusus dan kualitas barangnya memenuhi standar.
Kepala Bidang Fasilitasi Perdagangan, Promosi dan Perlindungan Konsumen Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus, Sonhaji, mengakui bahwa fluktuasi harga kedelai impor memang kerap terjadi. Pihaknya terus memantau pergerakan harga komoditas ini bersama komoditas pokok lainnya untuk memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga. Menurut Sonhaji, stok kedelai selama ini tersedia dalam jumlah yang cukup sehingga tidak ada kekhawatiran soal kelangkaan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun tekanan kurs rupiah berpotensi mendorong kenaikan harga barang impor, faktor ketersediaan pasokan dan dinamika pasar lokal turut berperan dalam menentukan arah harga di tingkat konsumen.
Tag: kedelai impor, harga kedelai, Kudus, tahu tempe, Primkopti