Karhutla Bromo Hanguskan 520 Hektare, Penanganan Butuh Kolaborasi Lintas Sektor
2026-08-10 06:15 WIB · aindari · 👁 872 dibaca

Kebakaran di kawasan TNBTS yang telah melahap sekitar 520 hektare lahan ditangani secara terpadu oleh ratusan personel gabungan dengan dukungan helikopter, drone, dan armada pemadam darat.
Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) terus meluas dan hingga Minggu telah menghanguskan sekitar 520 hektare lahan. Vegetasi yang terdampak mencakup hamparan rumput pegunungan hingga tanaman konservasi, termasuk bunga edelweiss. Meski demikian, api dilaporkan belum menjangkau kawasan Lembah Watangan dan Bukit Teletubbies yang menjadi ikon wisata Bromo.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak turun langsung meninjau kondisi lapangan di Kabupaten Probolinggo dan mengikuti rapat koordinasi penanganan kebakaran. Ia menegaskan bahwa kompleksitas medan di kawasan Bromo membuat penanganan karhutla tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan memerlukan sinergi lintas instansi.
Rapat koordinasi tersebut dihadiri sejumlah pejabat kunci, antara lain Kepala Balai Besar TNBTS Rudjanta Tjahja Nugraha, Komandan Kodim 0820 Probolinggo Letkol Inf Ribut Yudho Apriantono, Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo Oemar Sjarief, serta perwakilan relawan. Sebelum bergerak ke titik api, tim gabungan menyusun strategi pemadaman dengan memperhitungkan arah angin, kondisi vegetasi, dan tingkat kesulitan medan.
Berdasarkan pemantauan sementara, titik api masih ditemukan di kawasan P30 Kecamatan Sumber hingga area Penanjakan 1. Untuk menjangkau titik-titik tersebut, operasi pemadaman dijalankan secara kombinasi: tiga helikopter pengebom air dikerahkan dari udara, sementara di darat petugas menggunakan tujuh mobil pemadam kebakaran dan tiga drone water spray. Ratusan personel dari unsur TNI, BPBD, BB-TNBTS, dan relawan juga diterjunkan untuk pemadaman manual sekaligus membuka jalur akses dan menyisir bara yang tersisa.
Proses pemadaman menghadapi sejumlah kendala serius. Angin yang berubah arah sewaktu-waktu berpotensi menyebarkan api ke area lain yang sebelumnya sudah aman. Medan berbukit dan terjal membuat banyak titik api tidak bisa dicapai kendaraan, sehingga petugas harus berjalan kaki dan membutuhkan waktu lebih lama. Di sisi lain, alat gepyok yang digunakan untuk pemadaman manual di beberapa titik bahkan sudah habis terpakai, menandakan tekanan operasional yang cukup tinggi.
Selain memadamkan api yang masih terlihat, petugas kini juga berfokus mengantisipasi potensi kebakaran susulan dari bara yang belum sepenuhnya padam. Kombinasi operasi darat dan udara terus dipertahankan agar seluruh titik api, termasuk yang berada di lokasi sulit, tetap dapat ditangani secara menyeluruh.
Tag: karhutla, TNBTS, Bromo, Jawa Timur, kebakaran hutan