Pemadaman Karhutla Bromo Meluas, TNBTS Tetap Ditutup dan Modifikasi Cuaca Belum Bisa Dilakukan
2026-08-10 17:11 WIB · aindari · 👁 732 dibaca

Upaya pemadaman kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru diperluas ke dua titik baru, sementara operasi modifikasi cuaca terkendala absennya awan konvektif.
Pemadaman kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) terus diperluas. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto menyebut dua titik api baru kini menjadi sasaran pemadaman, yakni di kawasan B30 yang berada di perbatasan Probolinggo dan Malang, serta di area lembah. Pernyataan itu disampaikan usai rapat bersama Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan di Jakarta, Senin.
Selama proses pemadaman berlangsung, kawasan TNBTS masih ditutup sepenuhnya untuk umum. Suharyanto menjelaskan penutupan akan dipertahankan setidaknya selama sepekan ke depan sebelum dilakukan evaluasi. Pembukaan kembali baru akan dipertimbangkan apabila tidak ada titik api baru yang muncul dan kondisi dinyatakan benar-benar aman.
Menurut Suharyanto, fenomena El Nino menjadi faktor yang memperparah risiko kebakaran, terutama di kawasan padang savana dengan vegetasi kering seperti ilalang, rumput, dan semak. Ia mengingatkan bahwa pada 2023 saat El Nino mencapai puncaknya, tiga gunung di Jawa Timur sekaligus terbakar: Bromo, Arjuno, dan Lawu. Tahun ini, kebakaran serupa terjadi di Gunung Pangrango, Rinjani, dan Bromo, meski kondisi El Nino disebut belum mencapai puncak seperti tiga tahun lalu.
Salah satu opsi pemadaman yang diharapkan, yakni Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), hingga kini belum dapat dijalankan. Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Kehutanan, Satyawan Pudyatmoko, mengatakan kendala utamanya adalah belum terbentuknya awan konvektif di wilayah Bromo, yang merupakan syarat mutlak pelaksanaan operasi tersebut.
OMC bekerja dengan cara menyemai garam atau Natrium Klorida ke dalam gumpalan awan menggunakan pesawat khusus guna merangsang terbentuknya hujan. Operasi ini melibatkan koordinasi antara BNPB, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), serta TNI Angkatan Udara. Berdasarkan perkiraan BMKG, awan konvektif yang dibutuhkan diperkirakan belum akan terbentuk dalam 10 hari ke depan, sehingga opsi ini untuk sementara tidak bisa diandalkan.
Dengan kondisi cuaca yang belum mendukung dan titik api yang masih menyebar, upaya pemadaman di TNBTS sepenuhnya masih bertumpu pada metode konvensional di lapangan, termasuk helikopter water bombing yang sebelumnya telah disiapkan BNPB. Perkembangan kondisi akan terus dipantau sebelum otoritas memutuskan kapan kawasan wisata ikonik itu bisa kembali dibuka.
Tag: BNPB, kebakaran Bromo, TNBTS, karhutla, El Nino