Salsabilla dan Veldesen, Dua Anak Muda Indonesia Lolos Program Storytelling Global UNESCO
2026-08-14 06:03 WIB · aindari · 👁 528 dibaca

Keduanya terpilih dari seluruh dunia untuk mewakili Indonesia dalam inisiatif pemuda global UNESCO yang berfokus pada alam dan keberlanjutan.
Dua pemuda Indonesia berhasil menembus seleksi program internasional bergengsi yang digelar UNESCO. Mereka adalah Salsabilla Nur Feranti dan Veldesen Yaputra, yang kini resmi menjadi wakil Indonesia dalam program "Capture the Future: Global Youth Storytelling Initiative for People and Nature" — sebuah inisiatif yang dikelola UNESCO melalui Man and the Biosphere (MAB) Programme.
Proses seleksi program ini berlangsung sejak pendaftaran dibuka pada 5 Maret hingga 31 Mei 2026. Dewan juri dari MAB Programme kemudian menetapkan para representatif pemuda berprestasi dari seluruh dunia di Kantor Pusat UNESCO pada 29 Juli 2026. Dari proses itulah nama Salsabilla dan Veldesen muncul sebagai wakil Indonesia.
Salsabilla Nur Feranti adalah peneliti di Yayasan Lokahita dengan latar belakang pendidikan Rekayasa Kehutanan dan Biomanajemen dari Institut Teknologi Bandung. Ia membawa seri foto bertajuk "Shared Ground", yang diabadikan di Cagar Biosfer Serengeti–Ngorongoro, Tanzania. Karya tersebut merekam kehidupan masyarakat Maasai yang selama generasi telah hidup berdampingan dengan alam dan satwa liar di sekitar mereka. Salsabilla menyatakan bahwa ia ingin mengajak publik memandang keberlanjutan bukan sebagai konsep abstrak, melainkan sebagai pengetahuan hidup yang diwariskan lintas generasi.
Adapun Veldesen Yaputra berasal dari Pontianak dan kini menempuh studi magister arsitektur di Tsinghua University, China. Karyanya berjudul "From an Old House to New Hope: Youth and Villagers Reviving Mawei Embroidery", yang mendokumentasikan upaya revitalisasi rumah kayu tradisional milik masyarakat Shui di Libo, Guizhou. Di luar program UNESCO ini, Veldesen juga sedang menerapkan pendekatan arsitektur hijau berbasis kearifan lokal di Desa Tenganan, Bali, bekerja sama dengan Universitas Udayana. Baginya, konservasi bukan sekadar mempertahankan masa lalu, melainkan mengolah warisan itu agar tetap relevan dan terus berkembang untuk generasi mendatang.
Duta Besar RI untuk UNESCO, Mohamad Oemar, menyambut pencapaian keduanya sebagai cerminan kontribusi nyata generasi muda Indonesia di panggung global. Ia menyebut Indonesia sebagai salah satu negara dengan kekayaan keanekaragaman hayati dan budaya terbesar di dunia, dan keberhasilan Salsabilla serta Veldesen dinilainya sebagai bukti bahwa anak muda Indonesia mampu menerjemahkan kekayaan itu melalui kreativitas, ilmu pengetahuan, dan seni bercerita.
Sebagai kelanjutan program, keduanya akan mengikuti UNESCO x vivo Co-Creation Camp di Cagar Biosfer Apennine Tuscan-Emilian, Italia, yang dijadwalkan berlangsung pada 31 Agustus hingga 6 September 2026. Di sana, mereka akan bersama peserta dari berbagai negara untuk mengasah kemampuan storytelling sekaligus membangun jaringan internasional.
Tag: UNESCO, pemuda Indonesia, MAB Programme, storytelling, konservasi