IPB Gandeng Pesantren Probolinggo Cetak Petani Muda Lewat Program Dosen Pulang Kampung
2026-08-14 06:07 WIB · aindari · 👁 676 dibaca

Guru besar IPB mengunjungi Pondok Pesantren Darut Tauhid di Kabupaten Probolinggo untuk mendorong pesantren menjadi model kemandirian pangan sekaligus tempat regenerasi petani muda.
Sejumlah guru besar Institut Pertanian Bogor (IPB) turun langsung ke Pondok Pesantren Darut Tauhid, Desa Patemon, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, sebagai bagian dari program "Dosen Pulang Kampung" 2026. Kunjungan ini mengusung tema "Model Pesantren Mandiri Pangan melalui Pembelajaran Pertanian Berbasis Alam di Kabupaten Probolinggo" dan menjadi wujud nyata kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, pesantren, kelompok tani, serta masyarakat setempat.
Ketua Tim Guru Besar IPB, Prof. Abdul Munif, menyebut pesantren memiliki posisi yang strategis untuk tampil sebagai pelopor ketahanan dan kemandirian pangan di daerah. Kedekatan lingkungan pesantren dengan masyarakat pedesaan dan aktivitas pertanian dinilai menjadi modal sosial yang kuat untuk menggerakkan perubahan di sektor ini.
Edukasi yang diberikan dalam program ini tidak terbatas pada teknik bercocok tanam semata. Para peserta juga diperkenalkan dengan konsep ketahanan pangan, kemandirian pangan, pentingnya regenerasi petani, serta praktik pertanian yang memperhatikan kesehatan tanah dan tanaman. Munif menegaskan bahwa IPB ingin santri memahami pertanian bukan sebagai pekerjaan tradisional yang stagnan, melainkan sebagai bidang yang bisa berkembang menjadi profesi dan sumber ekonomi yang menjanjikan.
Dorongan ini muncul di tengah kekhawatiran nyata: sebagian generasi muda dari keluarga petani mulai enggan meneruskan profesi orang tua mereka. Pesantren dipandang sebagai ruang yang tepat untuk membalik tren tersebut, mengingat jangkauannya yang luas terhadap anak-anak muda di pedesaan. Selain ketahanan pangan, Munif juga menekankan pentingnya menanamkan kesadaran lingkungan, sehingga pesantren diharapkan turut mendorong penerapan pertanian ramah lingkungan di kalangan santri.
Dari sisi pemerintah daerah, Asisten Pemerintahan dan Kesra Sekda Kabupaten Probolinggo, Abd. Ghafur, menyambut positif program ini. Ia menilai kegiatan tersebut mencerminkan pentingnya sinergi antara pemerintah, akademisi, masyarakat, dan dunia usaha dalam pemberdayaan masyarakat. Pemerintah Kabupaten Probolinggo bahkan berencana memperkuat kolaborasi ini melalui kerja sama resmi agar transfer pengetahuan dan pendampingan pertanian dapat berjalan secara berkelanjutan.
Program Dosen Pulang Kampung IPB di Probolinggo diharapkan bukan sekadar kunjungan sekali jalan, melainkan awal dari kemitraan jangka panjang. Jika sinergi antara pesantren, pemerintah daerah, dan perguruan tinggi ini terwujud secara konsisten, hasilnya diharapkan berupa lahirnya model pesantren mandiri pangan, penguatan regenerasi petani, sekaligus terbukanya peluang ekonomi baru bagi santri dan masyarakat sekitar.
Tag: ketahanan pangan, IPB, pesantren, regenerasi petani, Probolinggo