Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Pendidikan

ULM Didorong Jadi Kampus Pertama yang Kelola Sampah Mandiri 100 Persen

2026-08-19 06:09 WIB · aindari · 👁 478 dibaca

Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan mendorong Universitas Lambung Mangkurat menjadi percontohan nasional pengelolaan sampah mandiri melalui pendekatan pendidikan, penelitian, dan perubahan budaya.

Universitas Lambung Mangkurat (ULM) di Banjarmasin berpeluang menjadi salah satu perguruan tinggi pertama di Indonesia yang mampu mengelola seluruh sampahnya secara mandiri hingga 100 persen. Dorongan itu datang dari Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq saat menghadiri rangkaian kegiatan World Cleanup Day 2026 di kampus ULM, Banjarmasin, Selasa.

Menurut Hanif, target tersebut bukan sekadar aspirasi. Ia menyebut ULM memiliki modal yang cukup untuk mewujudkannya, asalkan ditopang kepemimpinan yang kuat serta sistem pengelolaan yang dirancang secara terencana, terukur, dan diterapkan secara konsisten di seluruh lingkungan kampus. Ia optimistis ULM mampu mencapai status tersebut dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Hanif menegaskan bahwa persoalan sampah tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah seorang diri. Ia menyebut pendekatan pentahelix sebagai kerangka yang diperlukan, yakni kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, masyarakat, dunia usaha, dan media. Tanpa keterlibatan semua pihak secara bersamaan, penanganan sampah dinilai tidak akan pernah optimal.

Di tingkat nasional, Hanif mengidentifikasi tiga tantangan utama yang masih membelit pengelolaan sampah: tata kelola yang belum solid, sistem pengolahan yang belum memadai, serta minimnya komunikasi dan edukasi kepada masyarakat. Ketiga masalah ini, menurutnya, harus ditangani secara terpadu, bukan parsial.

Untuk ULM sendiri, Hanif berharap kampus itu mengoptimalkan fungsi tridharma perguruan tinggi dalam isu ini. Program kuliah kerja nyata tematik, misalnya, bisa diarahkan untuk memperkuat praktik pengelolaan sampah, baik di lingkungan kampus maupun di tengah masyarakat sekitar. Dengan begitu, edukasi tidak berhenti di ruang kelas, tetapi menghasilkan perubahan perilaku nyata.

Konteks geografis Banjarmasin juga menjadi perhatian khusus. Kota ini memiliki banyak wilayah sungai, sehingga risiko sampah masuk ke badan air menjadi ancaman yang lebih serius dibanding kota-kota lain. Hanif menekankan perlunya pendekatan yang lebih terintegrasi agar penanganan sampah berjalan dari sumber hingga tahap akhir tanpa celah.

Keberhasilan Banjarmasin mengelola sampah, kata Hanif, diharapkan menjadi barometer bagi daerah-daerah lain di Kalimantan Selatan bahkan seluruh regional Kalimantan. Jika kota dengan karakteristik sungai yang kompleks ini mampu menuntaskan masalah sampahnya, daerah lain dengan kondisi serupa dinilai tidak ada alasan untuk tidak mengikuti jejaknya.

Tag: ULM, pengelolaan sampah, pendidikan tinggi, World Cleanup Day, Banjarmasin