Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Daerah

Kabut Asap Karhutla Kalimantan Makin Parah, Warga Marah dan Pemerintah Kerahkan Armada Udara

2026-08-22 06:08 WIB · aindari · 👁 806 dibaca

Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan kembali menyelimuti wilayah dengan kabut asap pekat, memicu kemarahan warga yang merasa telah menderita kondisi ini seumur hidup.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan kembali menjadi krisis yang tak kunjung tuntas. Kabut asap tebal yang menyelimuti berbagai wilayah memaksa warga setempat menghirup udara beracun, kondisi yang bagi sebagian dari mereka sudah berlangsung bertahun-tahun bahkan sepanjang hidup mereka.

Kemarahan warga pun memuncak. Bagi masyarakat Kalimantan, kabut asap bukan sekadar gangguan musiman — ini adalah ancaman kesehatan yang berulang setiap kemarau tiba. Paru-paru warga menjadi taruhan, sementara praktik pembakaran lahan terus terjadi. Banyak yang merasa tercekik, baik secara harfiah maupun dalam arti perjuangan mereka mendapatkan udara bersih yang tak pernah benar-benar terwujud.

Merespons situasi yang kian memburuk, pemerintah mengumumkan penguatan operasi terpadu penanganan karhutla. Sekretaris Kabinet Teddy menyampaikan bahwa lima pesawat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) milik TNI AU diterbangkan untuk memperkuat 30 unit armada yang sebelumnya sudah beroperasi di Kalimantan. Penambahan ini menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan pemadaman dari udara.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) turut memperkuat penanganan dengan menggabungkan operasi udara dan darat secara bersamaan. Kementerian Kehutanan juga menyatakan dukungan terhadap operasi terpadu ini, mencakup penambahan dukungan udara sekaligus pemadaman langsung di lapangan. Pendekatan gabungan ini dinilai perlu mengingat luasnya titik api yang tersebar di berbagai penjuru Kalimantan.

Karhutla di Kalimantan umumnya dipicu oleh kombinasi musim kemarau panjang dan praktik pembakaran lahan yang masih berlangsung. Kondisi lahan gambut yang mudah terbakar memperparah situasi, karena api dapat menjalar di bawah permukaan tanah dan sulit dipadamkan sepenuhnya. Asap yang dihasilkan pun jauh lebih berbahaya dibanding kebakaran biasa.

Dampak kesehatan menjadi kekhawatiran utama. Paparan asap dalam jangka panjang berisiko merusak saluran pernapasan, terutama bagi anak-anak dan lansia. Warga yang tinggal di kawasan terdampak menghadapi pilihan sulit antara bertahan di rumah atau mengungsi, sementara aktivitas sehari-hari lumpuh akibat jarak pandang yang sangat terbatas.

Pemerintah menegaskan komitmen untuk menuntaskan karhutla tahun ini, namun bagi warga Kalimantan, janji serupa sudah terlalu sering terdengar. Kepercayaan masyarakat terhadap efektivitas penanganan jangka panjang terus diuji, selama akar masalah — yakni praktik pembakaran lahan dan lemahnya penegakan hukum — belum ditangani secara menyeluruh.

Tag: karhutla, Kalimantan, kabut asap, BNPB, kebakaran hutan