Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Internasional

Angkatan Darat Iran Umumkan Pergeseran Doktrin Militer ke Postur Ofensif

2026-08-22 17:00 WIB · aindari · 👁 510 dibaca

Iran secara resmi mengubah doktrin militernya dari defensif menjadi ofensif menyusul serangkaian konflik bersenjata dengan Amerika Serikat dan Israel.

Iran menegaskan telah meninggalkan postur militer bertahan yang selama ini menjadi landasan strategisnya. Juru bicara Angkatan Darat Iran, Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia, menyatakan bahwa dua konflik terakhir dengan Amerika Serikat dan Israel menjadi titik balik yang mendorong perubahan mendasar tersebut. Pernyataan itu disampaikan Akraminia kepada kantor berita IRNA pada Sabtu.

Menurut Akraminia, doktrin baru yang bersifat ofensif ini tidak sekadar mencakup langkah pencegahan, melainkan juga mencakup kemampuan untuk memberikan respons segera dan berskala besar terhadap setiap bentuk agresi dari pihak musuh. Pernyataan ini menandai perubahan retorika militer Iran yang cukup signifikan dibandingkan sikap sebelumnya.

Eskalasi antara Iran dan AS sendiri bermula sejak 28 Februari, sebelum kedua negara menandatangani nota kesepahaman gencatan senjata pada 18 Juni. Namun kesepakatan itu berumur pendek. Pada 8 Juli, Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata tersebut tidak lagi berlaku, dan sejak saat itu pasukan AS kembali melancarkan serangan terhadap Iran. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebut serangan-serangan itu sebagai respons atas tindakan Iran yang mengganggu kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.

Iran membalas dengan menyerang sejumlah pangkalan AS di kawasan Timur Tengah. Pada 12 Juli, Teheran mengumumkan penutupan Selat Hormuz—jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia—hingga AS menghentikan intervensinya di kawasan itu. Sehari berselang, Trump menyatakan AS akan bertindak sebagai "penjaga" Selat Hormuz sekaligus memberlakukan kembali blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Ketegangan semakin meningkat ketika Trump pada Kamis menyatakan Iran telah menyia-nyiakan peluang untuk mencapai kesepakatan diplomatik dengan Washington. Sebagai konsekuensinya, AS meluncurkan operasi ekonomi berskala besar terhadap Republik Islam itu. Menanggapi langkah tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menilai operasi ekonomi AS itu sebagai upaya mengalihkan perhatian dari persoalan dalam negeri AS sendiri, dan memperingatkan bahwa kebijakan itu justru berpotensi membawa Washington pada kekalahan yang lebih besar.

Pergeseran doktrin militer Iran ini mencerminkan dinamika konflik yang terus berubah di kawasan Timur Tengah. Dengan postur ofensif yang kini secara resmi diadopsi, ketegangan antara Teheran, Washington, dan Tel Aviv berpotensi memasuki babak baru yang lebih sulit diprediksi, terutama mengingat posisi strategis Selat Hormuz bagi arus perdagangan dan energi global.

Tag: Iran, Amerika Serikat, doktrin militer, Selat Hormuz, Timur Tengah