11.869 Titik Panas Terdeteksi di Kaltim, BMKG Desak Penguatan Mitigasi Karhutla
2026-08-22 17:10 WIB · aindari · 👁 731 dibaca

BMKG Balikpapan mencatat lonjakan titik panas di Kalimantan Timur sepanjang Agustus 2026, melampaui angka pada periode yang sama tahun 2015, dengan puncak El Niño diperkirakan belum tercapai.
Sebanyak 11.869 titik panas terdeteksi di seluruh wilayah Kalimantan Timur dalam rentang 1 hingga 21 Agustus 2026. Angka itu tersebar di 10 kabupaten dan kota, dan menjadi alarm bagi BMKG Stasiun Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan untuk mendorong penguatan mitigasi kebakaran hutan dan lahan secara menyeluruh.
Ketua Tim Data dan Informasi BMKG Stasiun Balikpapan, Huda Abshor Mukhsinin, menyampaikan hal tersebut pada Sabtu di Balikpapan. Ia menegaskan bahwa jumlah titik panas tahun ini lebih tinggi dibanding periode serupa pada 2015, ketika tercatat 9.793 titik panas dalam kurun 1–21 Agustus. Perbedaan itu disebut berkaitan dengan kondisi El Niño tahun ini yang lebih kering dibanding episode 2015.
Jika dirata-ratakan, dari total 11.869 titik panas selama 21 hari itu, setiap harinya terdapat sekitar 565 titik panas yang tersebar di Kaltim. Pada 21 Agustus 2026 saja, dalam satu hari penuh mulai pukul 01.00 hingga 24.00 WITA, BMKG mendeteksi 980 titik panas. Kabupaten Berau menjadi wilayah dengan sebaran terbanyak, yakni 439 titik, disusul Kutai Timur 178 titik, Kutai Kartanegara 166 titik, Paser 113 titik, dan Kutai Barat 69 titik. Wilayah lain seperti Penajam Paser Utara dan Bontang masing-masing mencatat 6 titik, Mahakam Ulu 2 titik, dan Balikpapan 1 titik.
Huda mengingatkan bahwa ancaman belum mencapai puncaknya. Masa puncak El Niño di Kaltim diperkirakan terjadi pada September hingga Oktober, sehingga potensi peningkatan titik panas masih terbuka dalam beberapa bulan ke depan. Karena itu, upaya edukasi dan mitigasi dinilai harus terus berjalan tanpa jeda.
Salah satu pesan utama yang disampaikan BMKG adalah larangan membakar lahan saat membuka area pertanian maupun perkebunan. Api yang tampak terkendali bisa menjalar ke lahan lain ketika angin bertiup kencang. Selain itu, aktivitas sehari-hari seperti membakar sampah atau membuang puntung rokok yang masih menyala di kawasan hutan dan kebun juga berpotensi memicu karhutla melalui daun-daun kering yang mudah terbakar.
BMKG menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, mulai dari edukasi masyarakat hingga penanganan lapangan oleh pemerintah bersama unsur terkait. Ajakan untuk tidak melakukan pembakaran sembarangan disebut perlu terus digaungkan setidaknya hingga akhir musim panas tahun ini.
Tag: Kalimantan Timur, karhutla, BMKG, El Niño, titik panas