Washington Ancam Sanksi Siapa Saja yang Tetap Berbisnis dengan Iran, China Masuk Radar
2026-08-25 10:31 WIB · aindari · 👁 916 dibaca

AS meluncurkan operasi ekonomi baru yang menargetkan lima sektor vital Iran dan memperingatkan negara mana pun, termasuk China, agar menghentikan hubungan bisnis dengan Teheran.
Amerika Serikat resmi meluncurkan kampanye bertajuk "Operation Economic Outcast" untuk memutus sumber-sumber pendapatan Iran, sekaligus memperingatkan seluruh negara dan entitas yang masih menjalin hubungan ekonomi dengan Teheran bahwa mereka berisiko terkena sanksi sekunder. Pengumuman ini disampaikan Menteri Keuangan AS Scott Bessent dalam konferensi pers di Washington D.C. pada Senin, 24 Agustus.
Operasi baru tersebut memusatkan perhatian pada lima sektor ekonomi Iran: aset digital, teknologi, emas, penerbangan, dan pelayaran. Bessent menegaskan tidak ada pihak yang kebal dari jangkauan sanksi AS, dan secara khusus menyebut China — mitra dagang utama Iran — sebagai salah satu pihak yang dapat menjadi sasaran jika tidak menghentikan aktivitas yang telah diidentifikasi Washington.
Bessent menyampaikan ultimatum dengan tenggat waktu yang telah ditetapkan bagi setiap negara untuk menghentikan aktivitas terkait Iran. Jika batas waktu itu terlewati tanpa tindakan, AS menyatakan akan bertindak secara sepihak melalui kewenangan Departemen Keuangan. Ia juga menyebut bahwa entitas mana pun yang terbukti memfasilitasi pencucian uang untuk Iran akan diputus aksesnya dari sistem dolar AS.
Bersamaan dengan pengumuman ancaman sanksi sekunder, AS mengumumkan telah menjatuhkan sanksi terhadap sekitar 60 entitas, individu, dan kapal di berbagai penjuru dunia. Mereka dituduh membantu Iran memperoleh teknologi nuklir dan rudal secara ilegal, menjalankan operasi siber, serta menghasilkan pendapatan dari ekspor minyak.
Meski demikian, pemerintahan Trump tidak mengungkapkan nama-nama spesifik yang menjadi target dalam operasi terbaru ini. Bessent hanya menyatakan, "Kami tidak akan menyebut nama-nama tertentu." Belum jelas pula bagaimana pendekatan baru ini akan berbeda secara substansial dari rangkaian tekanan ekonomi yang sebelumnya sudah diterapkan AS terhadap Iran.
Konteks diplomatik di balik pengumuman ini cukup kompleks. Langkah tersebut diambil ketika Presiden Donald Trump masih berupaya mencapai kesepakatan dengan Iran untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung hampir enam bulan. Di sisi lain, ancaman yang secara eksplisit menyasar China muncul hanya sekitar sebulan sebelum Presiden Xi Jinping dijadwalkan berkunjung ke Gedung Putih — sebuah pertemuan yang sarat kepentingan geopolitik.
Bessent menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa para pemimpin dunia kini dihadapkan pada pilihan antara kemakmuran atau isolasi, perdamaian atau teror, serta keberpihakan kepada Amerika atau Iran. Retorika itu mencerminkan tekad Washington untuk mempersempit ruang gerak ekonomi Teheran, meski efektivitas dan perbedaan nyata operasi ini dibanding upaya-upaya sebelumnya masih menjadi tanda tanya.
Tag: sanksi AS, Iran, China, Operation Economic Outcast, Scott Bessent