DPR Desak Polri Bongkar Dalang di Balik Kematian Pedagang saat Kericuhan Pejompongan
2026-08-31 06:03 WIB · aindari · 👁 855 dibaca

Anggota Komisi III DPR menuntut penyidikan menyeluruh atas tewasnya BS (59), pedagang cermin yang meninggal saat kericuhan di Pejompongan usai demonstrasi di sekitar Gedung DPR.
Seorang pedagang cermin berusia 59 tahun berinisial BS kehilangan nyawa di tengah kericuhan yang pecah di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, pada malam Kamis (27/8). Kematiannya memantik reaksi dari parlemen: anggota Komisi III DPR, Abdullah, mendesak Polri tidak berhenti pada penangkapan pelaku lapangan, melainkan menelusuri hingga ke akar — siapa yang menggerakkan, dari mana mereka berasal, dan apakah ada pihak yang memberikan perintah.
Abdullah menegaskan bahwa penyidikan harus dilakukan secara terbuka dan menyeluruh. Menurutnya, transparansi dalam pengusutan kasus ini penting untuk mencegah spekulasi liar yang bisa berkembang di masyarakat. Ia juga mengingatkan bahwa keamanan dalam aksi demonstrasi merupakan tanggung jawab penuh Polri, sehingga ketidakmampuan mengungkap kasus secara tuntas berpotensi menggerus kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum.
Legislator yang akrab disapa Abduh itu turut membuka kemungkinan penerapan pasal yang lebih berat. Jika penyidik menemukan bukti adanya unsur perencanaan dalam penghilangan nyawa korban, seluruh pihak yang terlibat dalam pengeroyokan berpotensi dijerat pasal pembunuhan berencana. Namun ia menekankan bahwa hal itu harus dibuktikan terlebih dahulu melalui proses hukum. Ia juga meminta aparat menangkap semua massa tak dikenal yang terlibat, dan bila terbukti ada keterlibatan organisasi tertentu, organisasi tersebut pun harus ditindak sesuai peraturan yang berlaku.
Abduh memperingatkan agar negara tidak terlihat gagal menjaga ketertiban hingga fungsi keamanan seolah diambil alih oleh kelompok yang bertindak dengan cara kekerasan. Pernyataan itu mencerminkan kekhawatiran bahwa pembiaran terhadap aksi premanisme di ruang publik dapat melemahkan wibawa negara.
Adapun kronologi kematian BS terbilang tragis. Sore harinya, BS memilih menutup lapak lebih awal setelah melihat kerumunan massa mulai berdatangan di sekitar tempat tinggalnya. Ketika situasi tampak mereda, ia keluar rumah untuk memantau kondisi sekitar — dan tidak pernah kembali. Istrinya, Sudarsi (56), mengaku tidak ada satu pun anggota keluarga yang menyaksikan langsung apa yang terjadi pada suaminya. Keluarga baru mengetahui nasib BS pada dini hari Jumat (28/8) setelah menerima sebuah video, lalu memastikan bahwa sosok dalam rekaman itu adalah BS. Sudarsi menduga suaminya sudah meninggal di lokasi kejadian sebelum sempat dibawa ke Rumah Sakit Polri. BS dimakamkan pada hari yang sama di kawasan Kemanggisan Pulo, Jakarta Barat.
Tag: Pejompongan, Komisi III DPR, Polri, kericuhan demonstrasi, pembunuhan berencana