Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Politik

Di Balik Terpilihnya Gus Kikin dan Miftachul Akhyar: Istana Disebut, Gerindra Membantah

2026-09-01 17:09 WIB · aindari · 👁 787 dibaca

Muktamar PBNU menghasilkan duet kepemimpinan baru, namun sejumlah pertanyaan soal keterlibatan kekuatan politik dari luar organisasi masih menggantung.

Muktamar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) telah menghasilkan pasangan kepemimpinan baru: KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam dan Gus Kikin yang terpilih sebagai Ketua Umum. Namun di balik hasil muktamar tersebut, muncul pertanyaan yang ramai diperbincangkan — apakah tangan-tangan kekuatan politik ikut bermain dalam menentukan duet ini.

Prof Nuh, salah satu tokoh yang hadir dalam proses muktamar, mengungkap sejumlah cerita yang terjadi di balik layar perhelatan organisasi Islam terbesar di Indonesia itu. Ia menjadi salah satu sumber yang memberi gambaran tentang dinamika internal yang berlangsung sebelum dan selama muktamar digelar, meski rincian lengkap pernyataannya tidak dirinci dalam materi yang tersedia.

Pertanyaan yang paling tajam mengemuka adalah soal dugaan keterlibatan Istana dalam menggiring terbentuknya paket duet Miftachul Akhyar dan Gus Kikin. Spekulasi ini beredar cukup luas di kalangan pengamat dan peserta muktamar, mencerminkan kekhawatiran bahwa proses internal NU bisa dipengaruhi oleh kepentingan politik di luar organisasi.

Gerindra secara tegas membantah tudingan bahwa pasangan kepemimpinan PBNU tersebut merupakan paket yang datang dari Istana. Partai besutan Prabowo Subianto itu menegaskan bahwa proses pemilihan berlangsung murni sebagai urusan internal warga Nahdliyin, tanpa intervensi dari lingkaran kekuasaan. Bantahan ini menjadi salah satu respons politik paling eksplisit terhadap narasi yang berkembang pasca-muktamar.

Sejumlah tokoh politik dari berbagai penjuru memberikan ucapan selamat kepada ketua umum PBNU terpilih, sebuah gestur yang lazim namun juga mencerminkan betapa strategisnya posisi PBNU di peta politik nasional. Organisasi dengan basis massa puluhan juta anggota ini selalu menjadi perhatian para aktor politik, terutama menjelang maupun sesudah pergantian kepemimpinan.

Di sisi lain, para pengamat menilai bahwa rekonsiliasi internal menjadi pekerjaan rumah utama yang harus segera ditangani Gus Kikin. Muktamar yang diwarnai berbagai dinamika itu menyisakan potensi ketegangan di antara faksi-faksi dalam tubuh NU, sehingga konsolidasi organisasi dipandang sebagai prioritas yang tidak bisa ditunda.

Ke depan, arah kepemimpinan PBNU di bawah duet Miftachul Akhyar dan Gus Kikin akan diawasi ketat, baik oleh kalangan internal NU maupun oleh para pelaku politik yang memahami besarnya pengaruh organisasi ini dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tag: PBNU, Muktamar NU, Gus Kikin, Miftachul Akhyar, Politik Islam