Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Politik

Duet Kiai Miftachul Akhyar dan Gus Kikin Pimpin PBNU, Harapan Perbaikan Ekonomi Umat Menguat

2026-09-02 06:02 WIB · aindari · 👁 791 dibaca

Terpilihnya Kiai Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam dan Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU disambut harapan besar dari berbagai pihak, termasuk soal kemandirian organisasi dan kebangkitan ekonomi umat.

Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35 menghasilkan kepemimpinan baru di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). KH Miftachul Akhyar terpilih sebagai Rais Aam, sementara Gus Kikin — sapaan akrab dari kalangan nahdliyin — diamanahkan memimpin organisasi sebagai Ketua Umum. Pasangan ini langsung mendapat sorotan dari berbagai elemen, mulai dari tokoh agama hingga aparat negara.

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Buya Anwar Abbas, menyambut positif hasil muktamar tersebut. Ia menilai duet kepemimpinan baru ini membawa angin segar, khususnya dalam upaya memperbaiki kondisi ekonomi umat. Bagi Buya Anwar Abbas, sosok Kiai Miftachul Akhyar dan Gus Kikin dianggap memiliki kapasitas untuk mendorong kemajuan di bidang tersebut.

Harapan serupa datang dari kalangan yang menginginkan NU tampil lebih solid ke dalam dan lebih mandiri dari tekanan kepentingan eksternal. Kemandirian organisasi menjadi salah satu poin yang disorot, mengingat NU sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia kerap berada di persimpangan antara peran keagamaan dan dinamika politik praktis. Kepemimpinan baru diharapkan mampu menjaga jarak yang sehat dari berbagai kepentingan di luar garis perjuangan organisasi.

Kapolri turut menyampaikan harapannya kepada pasangan Gus Kikin dan Kiai Miftachul Akhyar pascapengumuman hasil muktamar. Perhatian dari institusi kepolisian ini mencerminkan betapa strategisnya posisi PBNU dalam lanskap sosial dan keamanan nasional, mengingat jaringan NU yang tersebar luas hingga ke pelosok daerah.

Di sisi lain, proses menuju kursi puncak PBNU tidak berlangsung mulus bagi semua kandidat. Gus Salam, salah satu nama yang sempat masuk tiga besar calon ketua umum, harus melewati jalan yang digambarkan terjal dan berliku sebelum akhirnya tidak berhasil mengamankan posisi tersebut. Persaingan ketat ini menunjukkan tingginya dinamika internal dalam forum pengambilan keputusan tertinggi NU.

KH Miftachul Akhyar sendiri bukan nama baru di lingkungan NU. Ulama senior ini sebelumnya telah mengemban berbagai amanah di organisasi, sehingga terpilihnya ia sebagai Rais Aam dipandang sebagai kelanjutan dari rekam jejak panjangnya di dunia pesantren dan kepemimpinan keagamaan. Kombinasi antara figur ulama seperti Kiai Miftachul Akhyar dan kepemimpinan eksekutif Gus Kikin diharapkan menciptakan keseimbangan antara otoritas moral dan gerak organisasi yang lebih dinamis ke depan.

Tag: PBNU, Muktamar NU, Kiai Miftachul Akhyar, Gus Kikin, Nahdlatul Ulama