Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Internasional

Operasi 'Apel Busuk': ICE Tangkap Ribuan Imigran di New York, Pejabat Lokal Menolak Klaim Federal

2026-09-02 22:01 WIB · aindari · 👁 791 dibaca

Lebih dari 2.000 imigran ditangkap di New York dalam sebulan, memicu konfrontasi terbuka antara pemerintah federal dan pejabat negara bagian.

Otoritas imigrasi Amerika Serikat mengumumkan penangkapan 2.197 imigran di seluruh wilayah New York dalam rentang akhir Juli hingga akhir Agustus. Pengumuman itu disampaikan Menteri Keamanan Dalam Negeri Markwayne Mullin dalam konferensi pers di New York City pada Selasa, 1 September.

Operasi yang diberi nama 'Operasi Apel Busuk' ini diklaim Mullin berhasil membuat New York lebih aman. Ia menyebut operasi tersebut menangkap berbagai pelaku kejahatan serius, termasuk pembunuh, pemerkosa, pelaku pedofilia, pengedar narkoba, hingga pelaku kekerasan. Mullin secara eksplisit menyatakan operasi itu berjalan tanpa dukungan dari Wali Kota New York City Zohran Mamdani maupun Gubernur New York Kathy Hochul.

Kepala urusan perbatasan Gedung Putih, Tom Homan, turut mengkritik para politisi Demokrat di New York. Ia menilai mereka mengaku peduli terhadap keamanan publik, namun justru melarang petugas imigrasi masuk ke fasilitas tahanan untuk menangkap narapidana yang dianggap berbahaya, dan malah melepas para pelaku ke jalanan.

Gubernur Hochul menampik narasi yang dibangun pejabat federal tersebut. Dalam konferensi pers terpisah di hari yang sama, ia menegaskan New York bukan negara bagian yang memberikan perlindungan bagi para penjahat, dan menuduh pemerintahan Trump menyebarkan kebohongan kepada publik. Hochul juga mengungkit persoalan pendanaan: ia menuding Departemen Keamanan Dalam Negeri menahan 40 persen dana kontraterorisme untuk New York, senilai 87 juta dolar AS. Ia memperingatkan bahwa penghentian dana tersebut sama saja dengan mengkhianati keluarga korban tragedi 11 September 2001, mengingat lembaga itu sendiri dibentuk sebagai respons atas peristiwa tersebut.

Wali Kota Mamdani mengambil sikap berbeda namun tetap kritis. Ia menyatakan pemerintah kota siap berkoordinasi dengan federal jika ada imigran yang terbukti melakukan kejahatan serius. Namun ia menilai operasi ICE yang berjalan saat ini lebih banyak menyasar status imigrasi seseorang ketimbang rekam jejak kriminalnya. Mamdani menyebut pendekatan itu telah menimbulkan ketakutan luas di kalangan warga, termasuk mereka yang berstatus legal, hingga enggan keluar rumah.

Konfrontasi ini mencerminkan ketegangan yang sudah lama membara antara pemerintah federal di bawah administrasi Trump dan pemerintah daerah di kota-kota besar yang selama ini dikenal menerapkan kebijakan lebih terbuka terhadap imigran. Perdebatan soal batas kewenangan, pendanaan keamanan, dan definisi 'keamanan publik' tampaknya belum akan mereda dalam waktu dekat.

Tag: ICE, imigrasi Amerika Serikat, New York, kebijakan imigrasi, keamanan dalam negeri