Stok Beras Bulog Turun ke 4,7 Juta Ton, Dipicu Distribusi Besar-besaran Program Pangan
2026-09-15 06:07 WIB · aindari · 👁 675 dibaca

Cadangan beras pemerintah menyusut dari 5,4 juta ton menjadi 4,722 juta ton per 14 September 2026 setelah Bulog menyalurkan hampir 2,4 juta ton beras sepanjang tahun ini.
Cadangan beras pemerintah (CBP) yang disimpan di gudang Perum Bulog tercatat sebesar 4,722 juta ton per 14 September 2026. Angka ini lebih rendah dibandingkan posisi sebelumnya yang mencapai sekitar 5,4 juta ton, seiring besarnya volume penyaluran melalui berbagai program pangan pemerintah selama tahun berjalan. Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengungkapkan hal tersebut saat menerima kunjungan kerja Ketua Komisi VI DPR RI Anggia Erma Rini di Pusat Komando dan Pengendalian Bulog, Jakarta, Senin.
Penurunan stok itu didorong oleh tiga jalur distribusi utama. Pertama, bantuan pangan beras tahap pertama pada Februari dan Maret 2026 yang menyasar 33,2 juta keluarga penerima manfaat (KPM) dengan total kebutuhan sekitar 600 ribu ton. Kedua, bantuan pangan tahap kedua untuk periode Juli, Agustus, dan September 2026 yang volumenya hampir mencapai 1 juta ton — masing-masing KPM menerima 10 kilogram beras per bulan. Pemerintah memutuskan penyaluran tahap kedua ini dilakukan serentak atau dirapel agar distribusi September bisa segera diselesaikan.
Selain dua gelombang bantuan pangan tersebut, Bulog juga telah menyalurkan sekitar 800 ribu ton beras melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sejak awal tahun hingga September 2026. Rizal menyebut tingginya volume penyaluran ini sebagai cerminan bahwa cadangan beras pemerintah aktif dimanfaatkan untuk menjaga ketersediaan pangan sekaligus meredam gejolak harga beras di tingkat konsumen.
Di sisi pengelolaan kualitas, Bulog menerapkan sistem pemeliharaan bertahap yang mencakup pemeriksaan harian, mingguan, bulanan, hingga evaluasi semesteran. Rotasi posisi beras di dalam gudang — baik yang berada di tumpukan bawah maupun atas — menjadi bagian penting dari prosedur tersebut guna memastikan mutu tetap terjaga selama masa penyimpanan.
Namun demikian, sebagian beras yang telah tersimpan lebih dari delapan bulan mengalami penurunan mutu. Untuk menangani kondisi ini, pemerintah telah membahasnya dalam rapat koordinasi terbatas di Kementerian Koordinator Bidang Pangan. Hasilnya, sekitar 380 ribu ton beras turun mutu akan dialihfungsikan menjadi bahan baku tepung beras melalui mekanisme lelang, sehingga nilai ekonominya tetap dapat dimanfaatkan.
Di sisi hulu, Bulog memastikan penyerapan gabah dan beras dari petani dalam negeri terus berjalan sepanjang tahun dengan harga Rp6.500 per kilogram sesuai harga pembelian pemerintah (HPP). Rizal menegaskan penyerapan ini merupakan penugasan negara yang akan dijalankan secara konsisten selama masih ada hasil panen petani yang perlu diserap, dengan tujuan menjaga harga di tingkat petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Tag: Bulog, cadangan beras pemerintah, bantuan pangan, stabilisasi harga beras, ketahanan pangan