Amnesty Desak Investigasi Independen Tenggelamnya KMP Virgo, Soroti Jeda 3 Jam Sebelum Minta Bantuan SAR
2026-09-16 06:05 WIB · aindari · 👁 416 dibaca

Amnesty International Indonesia mempertanyakan mengapa permintaan bantuan kepada SAR Banjarmasin baru dilakukan sekitar tiga jam setelah kapal dilaporkan menghadapi cuaca buruk.
Amnesty International Indonesia mendesak pemerintah menggelar investigasi independen, imparsial, dan menyeluruh atas kecelakaan KMP Virgo Transport 8 yang terbalik di perairan Masalembo, Laut Jawa, pada Minggu (13/9) dini hari. Organisasi hak asasi manusia itu menegaskan bahwa proses penyelidikan harus mampu mengungkap penyebab tenggelamnya kapal secara transparan, termasuk ada atau tidaknya unsur kelalaian dari pihak-pihak yang terlibat.
Salah satu hal yang paling disorot Amnesty adalah selang waktu antara momen kapal dilaporkan menghadapi cuaca buruk dengan saat permintaan bantuan akhirnya dikirimkan. Berdasarkan informasi yang diterima Amnesty, kapal diketahui menghadapi kondisi cuaca ekstrem sekitar pukul 01.00 WIB, namun permohonan pertolongan kepada Kantor SAR Banjarmasin baru disampaikan sekitar pukul 04.10 WIB — selisih sekitar tiga jam. Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid meminta ada penjelasan resmi kepada publik mengenai alasan keterlambatan tersebut, dan menjadikannya salah satu fokus utama investigasi.
Amnesty juga menyoroti keterangan sejumlah korban selamat yang menyebut alarm darurat tidak terdengar saat kapal terbalik di tengah malam, ketika sebagian besar penumpang sedang tidur. Selain itu, kesaksian korban soal ketersediaan dan penggunaan pelampung selama kejadian dinilai perlu ditindaklanjuti secara serius oleh pihak berwenang. Amnesty mendorong investigasi untuk memastikan apakah KMP Virgo Transport 8 telah memenuhi dan menjalankan standar mitigasi serta prosedur kedaruratan sesuai regulasi yang berlaku.
Menurut Usman, apabila investigasi menemukan adanya kelalaian — baik dari operator kapal, otoritas pelabuhan, maupun pemerintah selaku regulator — maka pihak yang bertanggung jawab harus dimintai pertanggungjawaban secara hukum. Ia menegaskan bahwa korban dan keluarga mereka berhak atas pemulihan serta keadilan. Amnesty turut mengingatkan pentingnya uji tuntas terhadap penerapan standar keselamatan transportasi laut guna mencegah tragedi serupa terulang.
KMP Virgo Transport 8 melayani rute Surabaya–Banjarmasin dan membawa 243 orang saat kejadian. Menteri Perhubungan sebelumnya menyatakan kapal berkapasitas sekitar 500 orang, sehingga tidak dalam kondisi kelebihan muatan. Hingga Selasa pagi, dari 243 orang di atas kapal, sebanyak 108 orang ditemukan selamat dan enam orang meninggal dunia, sementara 129 lainnya masih dalam pencarian. Basarnas memperluas area operasi SAR dari sekitar 2.600 mil laut menjadi 4.600 mil laut pada hari ketiga pencarian.
Di sisi pemerintah, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono meminta semua pihak menunggu hasil investigasi resmi sebelum menarik kesimpulan soal penyebab kecelakaan, baik faktor cuaca, teknis, maupun faktor lainnya.
Tag: KMP Virgo Transport 8, Amnesty International, investigasi kecelakaan kapal, keselamatan transportasi laut, Masalembo