Hampir 6.000 Titik Panas Terdeteksi di Sumatera, Riau Diselimuti Asap Kiriman
2026-09-16 12:30 WIB · aindari · 👁 314 dibaca

BMKG Pekanbaru mencatat 5.983 titik panas tersebar di seluruh Pulau Sumatera, dengan Sumatera Selatan menyumbang porsi terbesar, sementara kabut asap dari selatan mulai mengurangi jarak pandang di sejumlah wilayah Riau.
Pulau Sumatera menghadapi lonjakan titik panas yang signifikan. BMKG Stasiun Pekanbaru mencatat total 5.983 titik panas tersebar di seluruh wilayah pulau itu berdasarkan data yang diperbarui hingga pukul 07.00 WIB pada Selasa, 16 September. Sumatera Selatan menjadi provinsi dengan konsentrasi titik panas tertinggi, yakni mencapai 4.169 titik dari keseluruhan total tersebut.
Provinsi-provinsi lain turut mencatatkan angka yang cukup mengkhawatirkan. Jambi berada di posisi kedua dengan 735 titik, disusul Bangka Belitung sebanyak 446 titik, Lampung 378 titik, dan Riau 115 titik. Bengkulu mencatat 74 titik, sementara Sumatera Barat, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, dan Aceh masing-masing mencatatkan angka yang lebih rendah, yakni 46, 14, 5, dan 1 titik. Prakirawan BMKG Pekanbaru, Putri Santy S, menyampaikan data tersebut sebagai gambaran kondisi terkini persebaran titik panas di Sumatera.
Khusus di Riau, titik panas tersebar di enam kabupaten dan kota. Kabupaten Indragiri Hulu menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak, yakni 84 titik. Indragiri Hilir menyusul dengan 16 titik, kemudian Kuantan Singingi 6 titik, Pelalawan 5 titik, Rokan Hilir 2 titik, serta Dumai dan Rokan Hulu masing-masing satu titik.
Dampak dari kebakaran hutan dan lahan tidak hanya terasa di wilayah sumber api. Sejumlah daerah di Riau mengalami penurunan jarak pandang akibat kabut asap. Pekanbaru dan Rengat masing-masing hanya memiliki jarak pandang sekitar tiga kilometer, Pelalawan 2,5 kilometer, dan Tambang sekitar empat kilometer — semuanya disertai kondisi berasap.
Kepala BMKG Stasiun Pekanbaru, Warjono, menjelaskan bahwa kabut asap yang menyelimuti Riau tidak semata-mata berasal dari kebakaran di dalam provinsi itu sendiri. Berdasarkan pemantauan pola angin dan citra sebaran asap, terdapat indikasi kuat bahwa asap bergerak dari wilayah di selatan Riau, terdorong oleh angin dari arah tenggara dan barat daya. Kondisi ini menjadikan Riau sebagai penerima dampak dari kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Sumatera bagian selatan.
Lonjakan titik panas ini terjadi di tengah musim kemarau yang kerap memicu kebakaran lahan gambut dan hutan di Sumatera. Pergerakan asap lintas provinsi memperumit upaya penanganan, karena kualitas udara suatu daerah dapat memburuk meski sumber kebakarannya berada jauh di luar batas wilayah administratifnya.
Tag: titik panas, kebakaran hutan, kabut asap, BMKG, Sumatera