WTO Peringatkan Selat Hormuz Jadi Ancaman Terbesar Perdagangan Global dalam 80 Tahun
2026-09-18 22:31 WIB · aindari · 👁 762 dibaca

Direktur Jenderal WTO menyebut gangguan rantai pasok di Selat Hormuz berpotensi mendorong kenaikan harga pangan dan pupuk dunia jika blokade berlanjut.
Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) mengeluarkan peringatan serius bahwa situasi di Selat Hormuz merupakan gangguan terbesar yang dihadapi perdagangan global dalam delapan dekade terakhir. Direktur Jenderal WTO Ngozi Okonjo-Iweala menyampaikan hal itu di sela Forum Publik WTO di Jenewa, menegaskan bahwa konflik yang terus berlangsung di Timur Tengah menjadi ujian berat bagi 166 negara anggota organisasi tersebut.
Meski demikian, Okonjo-Iweala menilai sistem perdagangan global masih menunjukkan ketahanan. Perdagangan barang global tercatat tumbuh 4,6 persen sepanjang tahun ini, jauh melampaui proyeksi awal sebesar 1,9 persen. Pada kuartal pertama saja, pertumbuhan sudah mencapai 3,2 persen. Sebanyak 72 persen perdagangan dunia juga masih berjalan di bawah kerangka aturan WTO.
Sebagian besar lonjakan pertumbuhan itu didorong oleh perdagangan yang berkaitan dengan teknologi kecerdasan buatan (AI), termasuk pengiriman semikonduktor dan cip senilai 3 triliun dolar AS secara global yang difasilitasi perjanjian tarif rendah atau nol. Namun Okonjo-Iweala mengingatkan agar tren ini tidak dianggap akan bertahan dengan sendirinya. Ia juga menyoroti bahwa manfaat ekonomi dari lonjakan tersebut masih terkonsentrasi di Amerika Utara dan Asia Timur, sehingga memunculkan kekhawatiran soal inklusivitas pasar global.
Di sisi lain, tekanan dari Selat Hormuz belum sepenuhnya terasa karena cadangan nasional di berbagai negara masih mampu meredam guncangan jangka pendek. Namun Okonjo-Iweala memperingatkan bahwa jika gangguan di jalur perairan vital itu berlangsung lebih lama, biaya pertanian pada akhirnya akan ikut terkerek naik, dengan dampak langsung pada harga pangan dan pupuk di pasar dunia.
Ancaman terhadap harga energi turut memperberat situasi. Proyeksi WTO sebelumnya menunjukkan bahwa harga minyak mentah di level 90 dolar AS per barel dapat memangkas pertumbuhan perdagangan global sebesar 0,5 poin persentase — dan harga minyak saat ini dilaporkan telah melampaui ambang tersebut. Perusahaan pelayaran memang sudah mengalihkan kapal ke rute alternatif untuk menjaga volume perdagangan, tetapi jalur yang lebih panjang berarti biaya premi yang lebih besar dan pertanyaan yang belum terjawab soal stabilitas rantai pasok jangka panjang.
Merespons tantangan struktural ini, Okonjo-Iweala mendorong negara-negara berkembang untuk aktif terlibat dalam perumusan kebijakan perdagangan yang diperbarui. Reformasi yang diusulkan WTO diarahkan untuk memperbaiki mekanisme kelembagaan yang tidak berfungsi optimal, sekaligus memastikan negara-negara berkembang tidak tertinggal dari peluang ekonomi yang tengah terbuka.
Tag: WTO, Selat Hormuz, perdagangan global, rantai pasok, geopolitik