Indonesia-Australia Perkuat Kerja Sama Deteksi Dini Terorisme, Hadapi Ancaman Digital dan Radikalisasi Anak Muda
2026-09-19 06:07 WIB · aindari · 👁 369 dibaca

Konsultasi bilateral ke-11 di Jakarta menjadi forum kedua negara memperbarui strategi bersama menghadapi ancaman terorisme yang terus berevolusi.
Indonesia dan Australia mempererat kemitraan di bidang penanggulangan terorisme, dengan fokus pada penguatan sistem deteksi dini di tengah ancaman yang dinilai semakin persisten dan adaptif. Langkah ini ditegaskan melalui Konsultasi Bilateral Penanggulangan Terorisme Ke-11 yang digelar di Jakarta pada Kamis, 17 Juli 2026.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Eddy Hartono menyebut pertemuan itu sebagai bagian dari upaya berkelanjutan dalam menelusuri, memitigasi, dan mendeteksi potensi ancaman terorisme secara lebih dini. Ia menegaskan bahwa capaian kerja sama selama ini merupakan hasil nyata dari kolaborasi bilateral kedua negara.
Konsultasi tersebut juga menjadi tindak lanjut dari nota kesepahaman (MoU) antara Indonesia dan Australia yang dijalankan melalui mekanisme Australia-Indonesia Partnership for Justice (AIPJ). Salah satu wujud konkretnya adalah kolaborasi dalam kerangka Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme (RAN PE) untuk lima tahun ke depan.
Duta Besar Australia untuk Penanggulangan Terorisme Gemma Huggins menggambarkan lanskap ancaman saat ini jauh lebih kompleks dibanding dua dekade lalu. Ia merinci sejumlah tantangan yang kini dihadapi kedua negara, antara lain radikalisasi melalui platform daring, penyebaran narasi ekstremis di kalangan anak muda, eksploitasi teknologi baru oleh kelompok teroris, serta persoalan pemulangan dan reintegrasi mantan pejuang teroris asing beserta keluarga mereka.
Dalam setahun terakhir, kemitraan ini telah menghasilkan sejumlah capaian. Melalui AIPJ Fase Ke-3, Australia mendukung implementasi RAN PE Fase Kedua 2026–2029 hingga ke tingkat daerah. Selain itu, kerja sama dengan Departemen Dalam Negeri Australia dan Organisasi Intelijen Keamanan Australia (ASIO) memperkuat kapasitas pelatihan analis. Sejak 2025, kedua negara juga bekerja sama dengan Kantor Penanggulangan Terorisme PBB (UNOCT) untuk memitigasi radikalisasi yang terjadi di platform gim daring.
Gemma menekankan bahwa kedekatan hubungan kedua negara dibangun dari pengalaman bersama dan kolaborasi operasional yang nyata, bukan sekadar komitmen di atas kertas. Bagi Australia, kemitraan dengan Indonesia dipandang krusial untuk menjaga stabilitas keamanan kawasan secara bersama.
Melalui forum konsultasi ini, Indonesia dan Australia menegaskan kembali tekad bersama untuk terus memperbarui program kerja, memperkuat koordinasi, dan menghadapi dinamika ancaman terorisme yang diprediksi akan semakin kompleks di masa mendatang.
Tag: terorisme, BNPT, Indonesia-Australia, radikalisasi, keamanan kawasan