IPB Uji Dua Varietas Padi Hemat Air di Kawasan Transmigrasi Salor
2026-10-14 06:04 WIB · aindari · 👁 944 dibaca

Uji tanam IPB 9G dan IPB 15S di Merauke diarahkan untuk mendukung produksi padi saat kemarau dan menghadapi keterbatasan air.
Tim Ekspedisi Patriot Institut Pertanian Bogor menguji dua varietas padi, IPB 9G dan IPB 15S, di Kawasan Transmigrasi Salor, Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Kegiatan ini ditujukan bagi petani yang menghadapi musim kemarau, terutama pada periode tanam ketiga ketika ketersediaan air menjadi tantangan dan air laut pasang dapat memengaruhi lahan pertanian.
Penanaman dilakukan pada lahan demonstrasi seluas 4 hektare di Distrik Kurik pada 21 September 2026. Sebanyak 240 kilogram benih digunakan dalam kegiatan tersebut, dengan takaran 60 kilogram untuk setiap hektare. Hasil dari lahan percontohan ini diharapkan menjadi bahan pembelajaran bagi petani sekaligus mendukung penguatan produksi pangan di kawasan transmigrasi.
IPB 9G dikembangkan untuk lahan kering dan memiliki kebutuhan air yang lebih rendah. Varietas ini juga berumur relatif pendek sehingga dinilai sesuai untuk kondisi musim tanam ketiga. Adapun IPB 15S memiliki potensi hasil hingga 10,16 ton gabah kering giling per hektare, sedangkan IPB 9G berpotensi menghasilkan 9,09 ton gabah kering giling per hektare. Kedua varietas tersebut menghasilkan beras pulen.
Dari sisi waktu panen, IPB 15S dapat dipanen sekitar 100 sampai 105 hari setelah semai. IPB 9G membutuhkan waktu sekitar 110 hingga 113 hari setelah semai. Periode panen yang lebih singkat dibandingkan sebagian varietas lain dapat menjadi pertimbangan dalam pengaturan jadwal tanam, terutama ketika petani harus menyesuaikan kegiatan budidaya dengan kondisi air.
Sebelum uji coba ini, petani di Salor menanam varietas Inpari 32 dengan hasil sekitar 5 hingga 6 ton gabah kering panen per hektare. Perbedaan potensi hasil tersebut menjadi salah satu aspek yang akan diamati melalui lahan demonstrasi, tanpa mengabaikan pengaruh kondisi lahan, cuaca, pengelolaan tanaman, serta faktor budidaya lainnya.
Pendampingan TEP IPB mencakup pengelolaan budidaya, pengendalian hama dan penyakit secara terpadu, serta penggunaan mekanisasi pertanian. Program ini menyasar 50 hingga 100 petani yang tergabung dalam Gapoktan Harapan Makmur, organisasi yang menaungi 12 kelompok tani di kawasan tersebut. Panen perdana diperkirakan berlangsung pada pekan kedua Januari 2027, mengikuti umur tanaman.
Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menyatakan bahwa hasil kerja tim di lapangan akan menjadi salah satu masukan bagi kebijakan dan pembangunan kawasan transmigrasi. Penguatan pangan di wilayah tersebut juga ditempatkan dalam arah swasembada pangan yang menjadi bagian dari Asta Cita kedua Presiden Prabowo Subianto. Kepala Distrik Kurik Mariana Belekubun menyatakan dukungannya terhadap kegiatan itu dan berharap prosesnya berjalan lancar serta menghasilkan panen yang baik.
Tag: padi hemat air, IPB 9G, IPB 15S, Transmigrasi Salor, Merauke