Kombinasi El Nino dan Terhentinya Pelayaran di Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Soal Pangan Dunia
2026-10-16 17:02 WIB · aindari · 👁 311 dibaca
Kepala ekonom FAO memperingatkan bahwa gangguan jalur laut strategis bersamaan dengan anomali cuaca El Nino berpotensi saling memperkuat dampak negatif terhadap pertanian dan ketahanan pangan global.
Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) menyuarakan kekhawatiran serius terkait ketahanan pangan dunia yang terancam oleh dua faktor besar secara bersamaan: terhentinya pelayaran di Selat Hormuz dan berlanjutnya fenomena iklim El Nino. Maximo Torero, kepala ekonom FAO, menyampaikan peringatan ini dalam wawancara dengan RIA Novosti di Moskow pada hari Jumat.
Torero menekankan bahwa kedua risiko tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan berpotensi saling memperburuk. Menurut data yang dimiliki FAO, terganggunya jalur pelayaran dapat memperparah tekanan terhadap produksi pertanian yang sudah terdampak El Nino, terutama melalui mekanisme kenaikan harga komoditas dan menyusutnya pasokan di pasar global.
El Nino sendiri merupakan fenomena alamiah yang terjadi ketika suhu permukaan laut di kawasan Pasifik khatulistiwa meningkat di atas rata-rata normal. Anomali ini kerap memicu gangguan cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia, yang pada gilirannya memengaruhi musim tanam dan hasil panen.
Namun, Torero mengakui bahwa FAO belum mengeluarkan proyeksi resmi yang mengukur secara kuantitatif dampak gabungan kedua faktor ini terhadap produksi pangan maupun harga pangan dunia. Ia menjelaskan bahwa dampak akhirnya akan ditentukan oleh banyak variabel, mulai dari berapa lama gangguan pelayaran dan pasokan energi berlangsung, seberapa parah anomali cuaca El Nino di masing-masing wilayah, jadwal musim tanam, keputusan petani soal penggunaan input pertanian, permintaan terhadap bahan bakar nabati, hingga respons kebijakan pemerintah di berbagai negara.
Salah satu mekanisme transmisi yang disoroti adalah melonjaknya biaya energi dan pupuk. Kenaikan harga kedua komponen ini dapat menghambat aktivitas produksi pertanian secara langsung. Sementara itu, kondisi cuaca buruk akibat El Nino berpotensi menurunkan hasil panen di wilayah-wilayah terdampak, sekaligus membatasi kapasitas negara produsen lain untuk mengompensasi kekurangan pasokan tersebut.
Gangguan di Selat Hormuz bermula setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran pada 28 Februari, yang kemudian dibalas oleh pihak Iran. Meskipun saat ini kedua pihak tidak terlibat dalam pertempuran aktif dan AS lebih mengandalkan tekanan ekonomi, eskalasi konflik tersebut secara praktis telah menghentikan lalu lintas pelayaran melalui selat yang menjadi jalur utama distribusi minyak mentah, produk olahan minyak bumi, dan gas alam cair dunia. Dampaknya, harga bahan bakar melonjak di sebagian besar negara.
Torero menegaskan pentingnya pemantauan menyeluruh terhadap sejumlah indikator kunci, termasuk prospek panen global, kondisi pasar pupuk dan energi, arus perdagangan internasional, biaya logistik pengangkutan, permintaan biofuel, serta dinamika inflasi harga pangan. Pemantauan ini diperlukan agar komunitas internasional dapat merespons secara tepat waktu jika risiko-risiko tersebut benar-benar terwujud menjadi krisis pangan yang lebih luas.
Tag: ketahanan pangan, FAO, El Nino, Selat Hormuz, harga komoditas