Pemkab Manggarai Minta Dukungan untuk Pulihkan Kondisi Psikologis Pengungsi Gempa
2026-10-19 06:01 WIB · aindari · 👁 428 dibaca
Sebanyak 8.392 warga masih mengungsi lebih dari dua bulan setelah gempa, sementara layanan pemulihan psikososial belum menjangkau seluruh kelompok rentan.
Pemerintah Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, mengakui keterbatasan tenaga dan kapasitas dalam menangani kondisi psikologis warga yang terdampak gempa pada pertengahan Agustus 2026. Bupati Manggarai Herybertus Nabit menyampaikan hal itu saat ditemui di Posko Tanggap Darurat Kabupaten Manggarai, Ruteng, pada Minggu malam.
Menurut Herybertus, pemerintah daerah memerlukan dukungan dari berbagai unsur untuk memperluas pemulihan psikososial pengungsi. Sejumlah perguruan tinggi dan lembaga swadaya masyarakat telah membantu, tetapi layanan yang berjalan masih lebih banyak menyasar anak-anak sekolah.
Padahal, dampak psikologis juga dirasakan warga dewasa yang kehilangan atau mengalami gangguan terhadap sumber penghidupan akibat gempa. Kelompok lanjut usia dinilai menghadapi kerentanan lebih besar karena sebagian dari mereka tidak lagi memiliki kemampuan untuk bekerja secara produktif. Pemerintah daerah mengkhawatirkan keputusasaan mengenai masa depan dapat memicu persoalan serius, termasuk risiko bunuh diri di kalangan lansia. Penanganan terhadap kondisi tersebut dinilai membutuhkan tenaga profesional.
Data Pemkab Manggarai menunjukkan, lebih dari dua bulan setelah gempa, sebanyak 1.301 orang masih tinggal di 17 posko pengungsian. Selain itu, 7.091 warga mengungsi secara mandiri dengan mendirikan tenda di sekitar rumah masing-masing. Dari keseluruhan warga terdampak yang masih mengungsi itu, pemerintah mencatat 1.054 orang masuk kategori rentan.
Kelompok rentan tersebut terdiri atas 335 anak-anak, 265 lanjut usia, 267 balita, serta 55 penyandang disabilitas. Herybertus berharap pemerintah, perguruan tinggi, dan organisasi masyarakat sipil turut membantu agar layanan pemulihan dapat menjangkau semua kelompok, bukan hanya siswa.
Plan Indonesia berupaya menutup kekurangan tenaga melalui pelatihan bagi relawan lokal. Direktur Eksekutif Plan Indonesia Dini Widiastuti mengatakan, pelatihan tahap pertama menghasilkan 20 trainer yang kemudian bergerak di 62 titik. Pada tahap kedua, sebanyak 32 relawan dilatih, sedangkan tahap ketiga diikuti 42 orang. Para relawan itu diterjunkan ke sejumlah wilayah Manggarai, terutama untuk mendampingi anak-anak terdampak gempa.
Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Manggarai Wensiaus Sedan mengatakan Kemendikdasmen akan mengirim 70 master trainer. Mereka akan membekali guru dengan kemampuan pemulihan psikososial bagi siswa. Setelah itu, guru yang telah mengikuti pelatihan diharapkan dapat melatih tenaga pendidik lain di sekolah masing-masing sehingga jangkauan layanan pemulihan di lingkungan pendidikan menjadi lebih luas.
Tag: Manggarai, gempa NTT, pengungsi, pemulihan psikososial, kelompok rentan