Prabowo Tetapkan 10 Tokoh sebagai Pahlawan Nasional pada Hari Pahlawan 2025
2026-07-18 17:17 WIB · aindari · 👁 459 dibaca

Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada 10 tokoh dari latar belakang politik, militer, pendidikan, agama, buruh, hukum, dan kepemimpinan daerah.
Presiden Prabowo Subianto menetapkan 10 tokoh sebagai Pahlawan Nasional dalam upacara kenegaraan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin, 10 November 2025. Penganugerahan itu berlangsung bertepatan dengan Hari Pahlawan dan diawali dengan mengheningkan cipta yang dipimpin Presiden. Penetapan tersebut tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 116.TK/Tahun 2025 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional yang ditandatangani di Jakarta pada 6 November 2025.
Dua mantan presiden masuk dalam daftar penerima gelar tahun ini. Jenderal Besar TNI Soeharto, Presiden kedua Indonesia, lahir di Kemusuk, Yogyakarta, pada 8 Juni 1921 dan memimpin Indonesia sejak 1966 hingga 1998. Masa pemerintahannya kerap dikaitkan dengan gaya kepemimpinan otoriter, tetapi juga dikenal dengan stabilitas nasional, pertumbuhan ekonomi, dan peran dalam hubungan internasional. Soeharto wafat pada 27 Januari 2008. Tokoh lain ialah K.H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Presiden keempat RI sekaligus tokoh Nahdlatul Ulama. Lahir di Jombang pada 7 September 1940, Gus Dur memimpin pada 1999–2001 dan dikenal melalui gagasan demokrasi, toleransi, kebebasan berpendapat, hak asasi manusia, serta upaya memperkuat citra Indonesia di luar negeri. Ia wafat pada 30 Desember 2009.
Dari gerakan buruh, negara memberikan gelar kepada Marsinah. Aktivis pekerja asal Nganjuk, Jawa Timur, yang lahir pada 10 April 1969 itu bekerja di pabrik di Sidoarjo dan aktif menyuarakan hak buruh, termasuk kenaikan upah. Ia diculik pada 5 Mei 1993 dan ditemukan meninggal tiga hari kemudian. Namanya kemudian dikenal sebagai simbol perjuangan buruh dan perempuan. Pada bidang hukum dan diplomasi, Mochtar Kusumaatmadja juga dianugerahi gelar. Lahir di Batavia, kini Jakarta, pada 17 Februari 1929, Mochtar dikenal sebagai ahli hukum yang berperan dalam hukum laut internasional dan penegasan wilayah maritim Indonesia. Ia pernah menjadi Menteri Luar Negeri pada 1988–1998 serta Duta Besar Indonesia untuk PBB, dan wafat pada 6 Juni 2021.
Penghargaan juga diberikan kepada tokoh pendidikan perempuan, Hajjah Rahmah El Yunusiyyah. Ia lahir di Padang, Sumatra Barat, pada 26 Oktober 1900, mendirikan lembaga pendidikan bagi perempuan, aktif dalam perjuangan kemerdekaan, serta pernah menjadi anggota DPR periode 1950–1955. Rahmah wafat pada 16 Februari 1969. Dari kalangan militer, Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo masuk daftar penerima gelar. Lahir di Purworejo pada 1925, ia dikenal karena perannya dalam operasi penumpasan PKI pada 1965. Sarwo Edhie pernah menjabat Panglima Kostrad pada 1967–1970 dan Gubernur Sumatra Utara pada 1983–1988. Ia meninggal pada 9 November 1989.
Sejumlah pemimpin daerah dan tokoh lokal turut memperoleh pengakuan negara. Sultan Muhammad Salahuddin dari Bima, Nusa Tenggara Barat, dikenal ikut berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Ia memimpin Kesultanan Bima pada 1947–1951 dan pernah menjadi anggota DPR pada 1950–1955. Tuan Rondahaim Saragih dari Simalungun, Sumatra Utara, juga tercatat sebagai tokoh adat dan pejuang nasional. Ia pernah menjadi Raja Simalungun pada 1927–1945 serta anggota DPR pada 1950–1955. Sementara itu, Zainal Abidin Syah, Sultan Tidore ke-37 sejak 1946 hingga wafat pada 1967, dikenal sebagai Gubernur pertama Irian Barat dan tokoh yang terlibat dalam diplomasi serta politik untuk mempertahankan kemerdekaan.
Dari kalangan ulama, gelar Pahlawan Nasional diberikan kepada Syaikhona Muhammad Kholil atau KH Muhammad Kholil bin Abdul Lathif. Ulama besar asal Madura itu lahir pada 27 Januari 1820 dan wafat pada 1925. Ia dikenal sebagai guru bagi banyak kiai berpengaruh di Indonesia, dengan peran penting dalam perkembangan pesantren dan ilmu agama. Penetapan 10 tokoh ini memperlihatkan cakupan penghargaan negara yang melintasi bidang pemerintahan, militer, hukum, pendidikan, agama, gerakan buruh, dan kepemimpinan daerah.
Tag: Pahlawan Nasional, Hari Pahlawan, Prabowo Subianto, Nasional