Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Daerah

Samarinda Awasi Harga Cabai dan Penyaluran BBM Bersubsidi

2026-10-21 06:09 WIB · aindari · 👁 880 dibaca

Pemkot Samarinda memperkuat koordinasi untuk menjaga pasokan pangan, menekan inflasi, dan menelusuri dugaan pengisian BBM bersubsidi berulang di sejumlah SPBU.

Pemerintah Kota Samarinda meningkatkan pengawasan terhadap dua persoalan yang dinilai berpengaruh pada stabilitas ekonomi daerah, yakni kenaikan harga cabai dan antrean panjang kendaraan di SPBU. Wakil Wali Kota Samarinda Saefuddin Zuhri meminta perangkat daerah, BUMD, serta instansi terkait bekerja bersama untuk memastikan pasokan pangan dan penyaluran BBM bersubsidi berjalan sesuai sasaran. Arahan itu disampaikan dalam rapat koordinasi internal bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah di Balai Kota Samarinda, Selasa.

Kepala Bagian Perekonomian Setda Samarinda Nadya Turisna melaporkan masih ada komoditas yang dipasarkan melampaui ketentuan harga. Beras premium merek Bengawan, misalnya, dijual sekitar Rp17.500 per kilogram, sedangkan HET-nya Rp15.400 per kilogram. Tekanan terbesar terhadap inflasi berasal dari cabai segar yang mengalami kenaikan akibat hambatan distribusi. Harga rata-rata cabai tiung tercatat Rp91.300 per kilogram, cabai keriting Rp91.000, cabai merah besar Rp73.500, serta cabai rawit berkisar Rp80.000 sampai Rp88.500 per kilogram.

Pemkot menyebut ketersediaan sejumlah pangan masih mencukupi. Stok beras sebanyak 5.839 ton diperkirakan memenuhi kebutuhan selama enam bulan. Persediaan minyak goreng diproyeksikan aman untuk empat bulan, sedangkan daging sapi dan telur ayam tersedia untuk dua hingga tiga bulan. Perusda Varia Niaga juga memiliki delapan ton ayam beku dengan tambahan pesanan 30 ton, bebek 2,5 ton, ikan bandeng 45 ton, dan telur omega 17.000 butir. BUMD tersebut tengah menjajaki pasokan beras medium dari Lamongan dan Sulawesi.

Untuk membantu masyarakat memperoleh bahan pangan dengan harga terjangkau, Gerakan Pangan Murah Serentak dijadwalkan berlangsung pada Rabu (21/10) di Kelurahan Loa Buah. Kegiatan itu digelar bersama Perum Bulog dengan dukungan Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Kalimantan Timur. Di tengah kondisi udara yang tidak sehat selama sepekan terakhir akibat asap dan hotspot dari arah selatan, BMKG Samarinda memperkirakan musim hujan mundur sekitar satu bulan, hingga awal atau pertengahan November 2026. Pemkot meminta PPL mendampingi petani agar produksi cabai lokal tetap berlanjut.

Antrean panjang untuk Pertalite dan Biosolar juga menjadi perhatian. Pertamina Depot Samarinda menyebut perbedaan harga yang lebar mendorong sebagian konsumen beralih dari Pertamax ke BBM bersubsidi, dengan konsumsi meningkat 9,6 persen. Kondisi itu berlangsung bersamaan dengan pemangkasan kuota Kaltim untuk 2026. Dari usulan 1.034.972 kiloliter, BPH Migas menyetujui 508.400 kiloliter, sementara jumlah kendaraan terus bertambah.

Sebagai langkah sementara, Pertamina mengoperasikan SPBU Kusuma Bangsa, Slamet Riyadi, dan Wahid Hasyim selama 24 jam serta menyiapkan layanan serupa di kawasan Sungai Siring. Nozzle tambahan direncanakan di SPBU Rapak Indah dan Kebaktian. Pertamina juga menemukan dugaan pengisian berulang oleh kendaraan yang tidak berhak, dengan volume sekitar 25–60 liter per hari. Saefuddin meminta kendaraan tersebut diidentifikasi bersama Dinas Perhubungan dan kepolisian untuk pemantauan lapangan, terutama bila pola itu berlangsung tiga atau empat hari berturut-turut.

Tag: Samarinda, cabai, BBM bersubsidi, inflasi daerah, pangan